8 Juni 2020

08 June 2020

Apa yang pernah terjadi di hidup anda, mungkin adalah sesuatu yang pernah anda lakukan di masa kecil. Setiap sesuatu memiliki pola, termasuk sikap dan tindakan kita.

Anak yang tidak pernah bandel mungkin baik, tapi apakah akan baik untuk perjalanan hidupnya? Belum tentu. Terkadang untuk menjadi seekor singa di saat dewasa, anda harus berbuat sesuatu yang “nakal” di masa kanak-kanak. Sesuatu yang berani dan di luar mainstream. Bukan berarti anak disuruh nakal, tapi berikan anak kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri yang dia sukai dan lihatlah apa yang akan terjadi, dia akan tumbuh alami. Anda hanya sebagai “guru” yang memberi ilmu, mengajarkannya ibadah, pengajaran hidup, mengajari banyak hal, tapi bukan sebagai orang yang menentukan dia sebagai apa dan siapa. Biarkan anak yang memilihnya. Toh, buah tidak akan jauh dari pohonnya dan tempat pohon itu tumbuh. Bila anda menginginkan buah yang baik pelihara dan rawatlah pohonnya dengan baik, yaitu diri anda sendiri. Perbaiki diri anda, pasangan anda, dan keluarga anda sehingga akan menjadi “rumah” yang baik untuk tumbuh bagi anak-anak anda. Bila dia melenceng suatu kali, dia akan kembali ke tempatnya karena anda sudah memberinya dasar yang baik di awal mula kehidupannya. Anggaplah saat dia melenceng itu, dia belajar dari tempat lain, sesuatu yang kelak berguna saat dia kembali ke jalan yang benar, semakin memperkuat dirinya yang mungkin tidak pernah anda ajarkan dulu. Lalu bagaimana dengan seseorang yang tidak pernah melenceng sama sekali?

Bukan berarti anda membiarkan anak-anak anda melenceng, mengenal pergaulan bebas, jauh dari norma-norma masyarakat dan ajaran agama. Hal itu tidak akan terjadi bila anda memberikan lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang anak. Kepribadian tidak hanya dibentuk oleh genetika, tapi juga oleh lingkungan. Terutama sekali lingkungan keluarga. Bila anda sulit menemukan lingkungan yang baik, minimal anda sendirilah yang baik.

Memberi anak pengajaran agama sejak dini, mengajarkannya shalat, baca-tulis Al-Qur’an, Sunnah-sunnah Nabi, atau mengajarkan membaca, menulis, berhitung, itu bagus sekali. Namun, anda juga perlu mengajarkannya life skill sehingga pada saat dewasa bahkan saat remaja anak-anak anda tidak tergagap menghadapi dunia luar atau lingkungan yang 100% berbeda.

Untuk menghadapi dunia, menjadi shaleh saja tidak cukup, pintar saja tidak cukup, berani saja tidak cukup, tapi gabungan dari semuanya, atau dengan cara berkolaborasi dalam relasi yang terkoneksi dengan baik.

Dunia ini dipenuhi tantangan, butuh nyali untuk menjawab tantangannya. Butuh keberanian lebih dari sekedar kepintaran. Butuh lebih banyak relasi daripada hanya sekedar pengetahuan. Lebih banyak praktik daripada teori. Setiap masalah selalu berkembang mengikuti zaman, masalah yang pernah anda alami bisa saja berbeda dengan anak anda. Dulu anda hanya mengenal surat, zaman anak anda mengenal email. Dulu, gamer itu hanya membuang waktu, sekarang menjadi gamer bisa mendatangkan uang dan bisa dipertandingkan. Dulu, dakwah dan mengaji hanya bisa di masjid, mushola, sekarang bisa di mana saja dan kapan saja dengan media apapun. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan cepat dan berganti kurang dari setengah tahun. Jika anda absen setahun saja untuk tidak mengikuti perkembangannya, anda akan kaget betapa banyak hal telah anda lewati. Apakah kini anda merasa menjadi budak dari teknologi dan informasi? Berarti anda masih menggunakan pola pikir lama.

Keterhubungan untuk melakukan kolaborasi adalah cara baru untuk bekerja dan membangun kemajuan bukan lagi dengan kompetisi atau persaingan. Membagi pengetahuan dan kemampuan adalah cara baru untuk saling bertumbuh, maju bersama.

Dunia ini dipenuhi ujian, butuh belajar yang banyak untuk bisa melaluinya. Belajar tidak hanya secara akademi, tapi yang lebih penting adalah belajar dari masyarakat (bermasyarakat), belajar dari lingkungan sekitar (peka pada keadaan dan mau menerima pelajaran dari siapapun), belajar memiliki pengalaman hidup (belajar dari pengalaman). Pengalaman yang memberi anda kemampuan, bukan teori, teori hanya menunjukkan anda “caranya”. Terkadang cara itu tidak lagi dipakai saat anda sudah punya pengalaman sebab anda sudah punya caranya sendiri, teori anda sendiri, hasil dari pengalaman anda. Teori orang lain belum tentu cocok dengan anda, dan teori anda belum tentu work untuk orang lain, bahkan di waktu yang berbeda.

Setiap sesuatu ada masanya..

08 June 2020