Ada Batasnya

24 Maret 2021

Masa lalu selalu menjadi bentang terindah dari sebuah lanskap masa. Apapun yang ada di dalamnya menjadi nostalgia untuk masa depan dan kini. Tak akan pernah terlupa. Adapun bila tidak sentuh sampulnya bukan berarti lupa dengan kisahnya. Hanya sedang mengambil jeda dan kelak akan melanjutkan ceritanya. Mengambil “nafas panjang” puzzlenya untuk disatukan dalam bingkai diri di kapan hari. Diri yang masih belum ditemukan dalam pencarian yang belum selesai (belum final).

Pencarian akan diri dan diri yang lain untuk melengkapi utuh dan (mungkin) akan lebih kukuh. Menjadi cermin arah agar bisa saling mengoreksi langkah dalam menjalani hidup yang mustahil ada kata “sempurna”. Kesempurnaan bukan milik kita. Kesempurnaan bagi kita adalah bila mampu untuk “adil” dalam pengertian yang luas. Tujuannya seperti yang telah kita ketahui adalah memenuhi takdir penciptaan sampai datang “kebebasan” dengan mengikhlaskan apa yang dimiliki sebagai milik-Nya. Tak ada kemelekatan hati termasuk pada apa yang dirasa dan dipikir.

Ikhlas amalan hati bagi yang telah memenangkan kesabaran..

Hidup adalah madrasah. Setiap waktu kita diuji untuk difilter demi membuktikan diri di hadapan kehidupan. Pada alam semesta ada petunjuk-Nya yang menunjukkan kebesaran-Nya, dan pada sesama ada pelajaran yang menunjukkan lemahnya kita. Manusia tidak bisa kuat dengan sendiri. Matahari pun tak akan punya arti tanpa Bumi. Hanya seonggok bintang di tengah luasnya alam semesta. Bumi bukan bumi bila tanpa bulan.

Arti itu ada karena adanya yang lainnya

Terbuka dengan segala kemungkinan. Kata-kata tidak pernah selalu benar dan tidak selalu salah. Hidup begitu kompleks (urusannya) dan berlapis-lapis (kesadarannya). Jawaban tidak datang sendiri, tetapi harus ditemukan dengan upaya sendiri. Upaya itu yang akan membentuk jawaban. Upaya yang menjadi pembeda. Tak ada jawaban yang mengikat karena hidup tidak statis dan tidak hanya ada di satu sisi.

Dialah (Allah) sumber pengetahuan, hikmah, dan kebijaksanaan, serta kekuatan dan pelindung.

Dunia manusia bukanlah surga dan bukanlah alam malakut. Seorang ustadz pernah berkata: Ilmu “langit” tetaplah harus “membumi”. “Langit” tempat untuk menyimpan cinta dan harap. Bumi tempat untuk menabur dan menyemai benih dari ilmu “langit” hingga benih itu menjadi amal yang akan menjadi buah kebaikan untuk penanamnya dan bagi makhluk yang ada di bumi. Manusia adalah manusia, wadah dari segala yang buruk dan baik. Manusia bukan malaikat dan bukan pula “iblis” tapi bisa menjadi keduanya dalam perbuatan. Kita yang memilih menjadi siapa dalam keterbatasan manusia kita.

Mereka tiada dalam keberadaan dan kita ada dalam ketidaksempurnaan.

Malaikat yang tampak adalah “kebaikan” manusia biasa yang ada batasnya.

Wallahu A'lam