Agustus 2020

24 August 2020

Dirgahayu 75 tahun Bangsa Indonesia yang mengikrarkan kemerdekaannya dari belenggu penjajahan bangsa lain semoga bangsa ini cepat keluar dari multi krisis yang dihadapi saat ini dan menjadi bangsa yang mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, sehingga bisa mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sesuai dengan cita-cita bersama sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945.

Siapa saya? Bukan hal penting untuk diketahui sebab yang perlu diketahui adalah sesuatu yang berguna untuk kita dan hidup kita. Saya tidak berbeda darimu. Saya dan kamu menjadi kita yang melebur menjadi satu dan itulah kami. Kami dan kamu sekalian bila kita bisa bersama akan menjadi kami untuk menghadapi mereka yang ingin merenggangkan antar kita dengan isu perbedan-perbedaan yang tidak diperlukan.

Berbeda adalah keniscayaan. Mustahil untuk bisa disatukan, disamakan. Kamu bukan aku. Aku bukan kamu. Kamu bukan dia. Namun, kita bisa menjadi kami bila kamu bersedia. Kebenaran bukan mutlak milik satu pihak. Kebenaran milik semua orang selama akal sehat digunakan. Kebaikan milik semua orang selama hati nurani dihidupkan. Tidak fanatik pada golongan. Siap terbuka dan menerima selama hal itu baik untuk semua. Tidak mempertahankan ego diri dan kelompok lalu memecah rasa persatuan. Tidak merenggangkan shaf barisan sehingga terhalang kita dari kemajuan bersama yang telah diikat dalam satu simpul yang bernama INDONESIA.

Saya dan tulisan ini tidaklah pantas untuk dibaca sebab saya tahu pasti kapasitas diri saya tidaklah mencukupi. Lupakan saya, jadilah kita, jadilah kami. Jadilah siapa saja yang kamu bisa, akan tetapi sebelumnya jadilah dirimu sendiri. Kenali dirimu sebelum kamu bisa mengenali orang lain hingga kamu tidak disesatkan oleh mereka yang ingin menyesatkanmu. Kenali Indonesiamu, sejarah akar bangsamu, masyarakatmu, daerahmu, para orang tuamu, sesepuhmu, leluhurmu. Kenali mereka semua sebagai bagian dari identitasmu sehingga kamu menjadi kuat dengan semua itu untuk menghadapi rongrongan yang ingin mencuri sebagian dari identitasmu dan menggantinya dengan harapan membuatmu linglung. Linglung dengan sejarahmu sendiri. Hingga tak sadar yang kamu lawan adalah bagian dari dirimu sendiri untuk menghancurkan dirimu. Menghancurkan bangsamu.

Tiada masa depan bagi yang melupakan masa lalu. Tiada kita bisa mengenali hari ini bila melupa hari kemarin. Tidak kita ketahui besok hari apa bila kita tidak tahu hari apa hari ini. Tiada kita tanpa sang waktu. Waktu mencatatnya, akan tetapi bisakah kita membacanya? Dengan apa kita membacanya? Dengan mata milik siapa kita akan melihatnya? Karena setiap mata yang melihat berbeda pula apa yang dilihatnya, kecuali bila hati sama-sama merasakan, dan pikiran sama-sama memikirkan.

Kebenaran bukan milik mereka yang mengaku. Kebenaran milik Dia Yang Haq, yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya meski itu kepada mereka yang kita anggap salah hanya dengan asumsi tanpa pengetahuan. Maka milikilah pengetahuan sehingga tiada buta akal melihat tempat berpijak.

Kebenaran bukan sekedar kata yang diucapkan tanpa adab. Iblis pun bisa berucap benar hanya saja hatinya mendustainya. Adab yang baik akan mencegahnya dari keburukan lisan dan keburukan perbuatan meski ia bukan orang yang berpengetahuan. Namun, bukan berarti pengetahuan tidak penting dari adab sebab pengetahuan bisa membentuk adab dan bisa melengkapinya sehingga menjadi insan yang kamil.

Sekali lagi, saya tidak merasa pantas untuk menuliskan hal-hal seperti ini karena di luar dari kapasitas diri saya. Namun, kita bisa sama-sama belajar, paling tidak belajar menjadi lebih baik, meski kata lebih baik adalah hal yang relatif pada setiap diri.

Wallahu A’lam

24 August 2020