Ahlan Wa Sahlan

10 November 2020

Orang-orang yang tidak terlalu mengenalnya atau minimal tidak mengetahui bagaimana sepak terjangnya cenderung mendeskreditkannya hanya karena peristiwa tiga-empat tahun lalu. Lebih menyedihkan lagi seolah tidak diakui ketokohannya yang dihormati oleh berbagai kalangan. Lebih menyoroti tentang satu dua hal kontroversi yang merupakan fitnah. Padahal beliau memiliki pengaruh yang besar, jauh sebelum kita mengenalnya kurang dari lima tahun terakhir ini.

Beliau memang keras dan tegas dalam perkara yang batil, tetapi memiliki kelembutan hati dan sikap yang cukup moderat, mengedepankan kebersamaan, tidak hanya untuk kalangan internalnya, tetapi untuk semua kalangan, muslim maupun nonmuslim. Tokoh nasionalis agamis dan intelektual, yang aksinya tidak sekedar wacana, yang suaranya cukup didengar, memiliki pengaruh, dan amat diperhitungkan. Beliau bukan seorang yang berpikir radikal, ekstremis, atau penganjur kekerasan.

Ceramahnya membakar, memberi semangat juang untuk menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Lingkungan ibukota yang keras dengan segala kemaksiatan di dalamnya menjadi ladang dakwahnya. Ini merupakan panggilan jihad baginya sejak dahulu sehingga tidak heran beliau begitu vokal dan tidak pernah mau tunduk pada penguasa. Pengikut dan simpatisannya banyak sebagai buah dari perjuangan dakwahnya, terutama di lingkungan grass root selama puluhan tahun.

Bila sering disebut selalu bikin riuh dan gaduh, sebenarnya yang gaduh itu adalah ketika yang disorot lebih banyak hal-hal yang negatif. Siapa yang menyorotnya dengan sudut yang tidak pas? Media. Media memiliki peran besar untuk menyetir opini publik. Ketika kepentingan suatu kelompok yang memiliki uang dan kuasa diganggu maka kelompok tersebut akan berupaya memadamkan gangguan dengan menaruh duri.

Manusia tidak ada yang menjadi malaikat seutuhnya, dan tidak pula menjadi iblis sepenuhnya. Beliau tentu bukan manusia yang suci seperti para nabi meski memiliki nasab yang suci sebagai ahlul bait nabi. Jangan selalu dipandang bahwa ulama yang benar-benar ulama itu haruslah sosok yang penuh dengan cinta kasih, welas asih, selalu sejuk, dan damai, seperti Syekh Ali Jaber sehingga bila ada ulama yang terlihat keras dan vokal dianggap bukan ulama yang baik. Setiap ulama memiliki karakternya masing-masing sesuai dengan ladang dakwahnya. Menilai baik buruknya ulama tidak dinilai dari anggapan secara dzahir melainkan berdasarkan landasan sikap dan pandangannya apakah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, atau hanya berdasarkan dari hawa nafsu semata, mengejar keuntungan duniawi, meninggalkan ukhrawi.

**

Sebagai muslim pas-pasan, yang memilih mengambil pandangan pertengahan (walau masih zig zag), saya tidak terlalu condong pada satu sikap yang utuh dan spesifik, dan dengan pengaruh tradisi keagamaan NU sejak kecil, kemudian mengenal tarbiyah, selanjutnya salafi (hanya sebatas mengenal dan tidak mendalami), akhirnya saya mereduksinya dan mengambil pandangan yang lebih lentur. Mungkin ini adalah sesuatu yang salah, tetapi mungkin ini sesuai dengan kapasitas yang saya miliki. Saya hanya orang dari kalangan biasa, bukan aktivis, bukan dari lingkungan pesantren, dan bukan pula akademisi. Lagi pula kecenderungan saya adalah memilih hal yang lebih umum dan universal sehingga saya tidak ingin melihat dalam satu kacamata dari kelompok tertentu. Sebisanya saya tidak ingin mendeskreditkan kelompok mana pun karena setiap pandangan memiliki alasan keilmuan. Saya yang tidak memiliki ilmu dan tidak intelek tentu saja hanya bisa mengikuti sebatas pada apa yang dipahami, dan selama kita belum memahami sepenuhnya jangan bergegas menilai dengan nada menghakimi. Termasuk dalam hal yang sering diributkan akhir-akhir ini.

Bagi saya fanatik itu tidak menjadi soal selama tidak menjadi fanatik buta sehingga berlebih-lebihan dalam mengambil sikap dan akhirnya menimbulkan gejolak. Tidak semua gejolak itu selalu jelek dan bila ada sesuatu yang buruk belum tentu itu benar-benar buruk. Siapa tahu hal itu adalah bagian dari skenario Allah untuk memberikan kebaikan yang besar. Persatuan umat lebih harus diutamakan daripada kelompok. Kita harus melihat pada apa yang menjadi tujuannya ketimbang hanya melihat warna bajunya. Saya pikir semua orang menginginkan hal yang sama, yaitu kebaikan. Bila demikian maka berangkatkan hati dari terminal kebaikan. Jangan mudah melihat keburukan, bila ada aib tutupi, bila ada kesalahan ingatkan. Jangan repot-repot mencari dan mengorek kesalahan orang lain seperti media yang rajin mengupas berita sehingga aib orang pun dipergunjingkan, karena setiap orang pasti memiliki kesalahan bila dicari dan dilihat dari sudut-sudut tertentu tinggal bagaimana kita mencari sudut yang pas untuk melihat sisi kebaikannya daripada kekurangannya.

Saat ini kita mendapatkan banyak pelajaran dari dua sisi yang berbeda dan dipertontonkan jelas di hadapan kita, masalahnya ada di sisi mana kita, itu yang mempengaruhi pandangan kita terhadap baik dan buruknya sesuatu. Preferensi kita ikut menentukan, begitu pula dengan adanya kepentingan. Selagi kita punya alasan yang bisa dipertanggung jawabkan kelak di hadapan-Nya jangan ragu menentukan pilihan karena waktu akan mengoreksinya.

Ahlan wa sahlan, semoga semakin kuat dan kokoh perjuangan amar ma’ruf nahi munkar..

10 November 2020