Doa untuk Gaza

17 Mei 2021

Syam Tanah yang dijanjikan
akan kemunculan trah terakhir kesucian
Allah tidak menidurkan Al-Aqsha
tidak untuk warga Gaza
tidak untuk Palestina

Allah terus membuatnya terjaga
dengan berondongan peluru musuh
dengan bom-bom
dengan guncangan-guncangan

apakah Gaza takut?
tidak!

setiap kali peluru yang ditembakkan
atau rudal-rudal yang dijatuhkan
setiap kali itulah musuh menerima ketakutannya

dan Gaza semakin berani
dan penderitaan Yahudi* adalah lebih dari derita Gaza
dan Palestina seluruhnya

mereka berada dalam tembok-tembok
mereka melindungi diri dari ketakutan yang bergelombang

takut akan anak-anak Palestina yang berjiwa tegar
takut akan perempuan-perempuan suci Palestina
yang kelak melahirkan anak-anak yang melawan mereka
takut akan pemuda-pemuda Palestina yang bersenjata ketapel
laksana Daud menghadapi Jalut
karena atas izin Allah
batu itu bisa meletup bahkan menghancurkan merkava

lalu kenapa Allah tidak segera memenangkan Gaza?
membebaskan Palestina
membuatnya menjadi tanah yang merdeka?

tidak
belum
belum saatnya

sebab Allah menunggu kita
menunggu kita untuk berdiri
menunggu kita untuk berjalan, berlari, mendekat
kepada shaf-shaf dalam satu barisan
dalam satu kumpulan
dalam satu kesatuan

Allah memanggil kita untuk Gaza
memanggil doa-doa kita
semoga doa-doa itu menjad peluru yang menghujam dada Yahudi Zionis*
semoga doa-doa itu menjadi penguat langkah-langkah orang-orang Gaza
menjadi benteng yang melindungi rumah-rumah dan bangunan mereka

semoga doa-doa itu memanggil seluruh mujahid dari segala arah
datang bak air bah yang bergelombang
membanjiri Syam
menghancurkan Israel!*

semoga dengan doa-doa itu kita didekatkan
kepada masa dimana Israel* hanya tinggal nama
dan masa itu dekat
sedekat Israel* menginginkan Gaza hancur
sedekat segencar mereka
menyerang dengan kekuatan penuhnya dari darat dan udara

karena Allah tidak diam
Allah bersama Gaza, Allah bersama Palestina
dan bila genderang perang telah tertabuh
dan daratan itu telah memanggil semua pejuang
maka itu adalah hari dimana yahudi zionis* akan mati

خخَيْبَر خَيْبَر يَا يَهُوْد جَيْشُ مُحَمَّد سَوْفَ يَعُوْد
Khaybar Khaybar Ya Yahuud, Jaisyu Muhammad Saufa Yauud!
Khaibar, Khaibar, wahai Yahudi*, tentara Muhammad akan kembali!.

NB:

Saya menulis ini pada 2014 sebagai reaksi saat terjadi konflik Israel - Gaza. Kata Yahudi dan Israel —tanpa bermaksud rasis dan SARA— di sini merujuk pada Zionis Israel (sebagai entitas kelompok penjajah bukan sebagai bangsa) dan pasukannya serta ekstrimis Yahudi yang mendukung Zionisme dengan kekerasan dalam upayanya menganeksasi wilayah Palestina dan mengabaikan hukum internasional serta mendukung serangan ke Gaza.

Saya tidak membenci Yahudi hanya karena mereka Yahudi, tetapi karena paham zionisme mereka. Tidak semua Yahudi pro terhadap zionis dan mendukung kebijakan pemerintahan Zionis Israel terhadap Palestina. Yahudi memang berhak hidup damai di Palestina berdampingan dengan penduduk Palestina tetapi tidak berhak mendirikan negara merdeka sendiri atas nama Israel dengan menginjak-injak hak-hak penduduk Palestina dengan menduduki wilayah mereka.

Damai dengan melakukan genjatan senjata tentu lebih baik daripada berperang untuk menghentikan jatuhnya korban sipil lebih besar. Namun, bila pihak Zionis menginginkan untuk terus berperang dan tidak akan berhenti sebelum menguasai Gaza, menghancurkan pejuang Palestina, maka tidak ada harapan lain selain mengharapkan kehancuran Zionis Israel.

Semoga doa-doa kita menjadi penguat perjuangan Palestina meraih kemenangan hingga akhirnya lepas sepenuhnya dari penjajahan Zionis Israel dan menjadi negara merdeka sebagaimana negara-negara merdeka lainnya. Tidak hanya cukup dengan doa, tetapi juga bantuan materil untuk membangun kembali reruntuhan bangunan, rumah, dan fasilitas yang dihancurkan Zionis Israel, merawat para korban yang terluka, dan juga bahan makanan untuk mereka.

Tulisan ini hanyalah sumbangsih kecil saya sebagai bentuk keprihatinan dan solidaritas atas apa yang terjadi di Palestina. Palestina menjadi ruh yang membangkitkan ghirrah umat untuk bangkit. Ghirrah itu haruslah tetap menyala tidak hanya saat Gaza dibombardir atau terjadinya kekerasan di Masjidil Aqsha, atau di kota-kota manapun di Palestina. Namun, tetap menyala untuk menjalankan mesin gerak perubahan melalui saluran-saluran yang tepat. Jangan sampai ghirrah ini disalahgunakan untuk tujuan-tujuan yang tidak benar, terjerumus ke dalam gerakan yang salah, yang akhirnya akan menambah masalah.

Palestina tentu bukan satu-satunya, ada banyak sekali pertumpahan darah, konflik, dan kekerasan di bumi Islam lainnya, atau di bumi manapun. Kita tentu tidak menutup mata terhadap semua yang terjadi. Namun, tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini, kecuali hanya bisa berdoa, dan membantu dengan donasi, serta memberitakan hal yang benar tentang apa yang terjadi.