Bola Liar

28 Maret 2021

"Akal yang terikat pada kepentingan perut (ekonomi) dan kedudukan (politis) tidak akan mampu menggunakan akalnya untuk menyuarakan kebenaran"

Ketidaksadaran terbius hembus materi dan kedudukan menjadi penyebab akal tidak berfungsi benar melihat kebenaran dan matinya nurani memandang kemanusiaan. Hilang moral, delusi kemajuan, berkiblat pada materialistik, buta dan tuli dari realita, tumbuh curiga akibat pengelompokkan yang dibuat sendiri. Polarisasi kian menghambat kita untuk saling memahami, perpecahan kian anyir tercium karena pemaksaan kehendak tanpa membuka ruang diskusi panjang pada pihak yang terdampak.

Kita hampir tidak bisa membedakan mana suara yang dibayar, mana suara murni yang mengikuti, dan mana suara ideologisnya. Semua terdengar dengan nada yang sama dengan berbagai volumenya. Suara yang dibayar tentu lebih kuat karena didesain untuk menjadi gema, sementara suara ideologis lebih berfokus merangkai basis narasinya, memengaruhi suara-suara murni yang sebelumnya masih sumbang dan diam.

Kita harus melihat pada arus utamanya, hendak ke mana arus itu mengarah, bukan hanya pada isi dari arus itu. Lakukan zoom in dan zoom out. Temukan sebanyak mungkin kesalahan atau bug lalu perbaiki. Bila tidak mengubah isinya, buat patch pengaman untuk menutupi bug yang ditemukan itu agar tidak merugikan pihak yang seharusnya mendapatkan perlindungan.

Tidak ada sistem yang sempurna terlebih sistem itu adalah produk buatan manusia. Akui itu maka kita bisa terbuka untuk menerima segala masukan dan mengakomodasinya ke dalam produk turunan. Bila benar yang diperjuangkan adalah untuk semua bukan sebagian maka dengarkanlah suara-suara itu. Jangan selalu melihat pada keinginan ego, bila berkeyakinan bahwa apa yang telah dibuat baik untuk semua, terbukalah dan sampaikan itu secara terang benderang tanpa ada yang ditutup-tutupi. Jawablah keresahan yang mereka rasakan dan jangan dibiarkan larut menjadi bola liar.

Bila bola liar itu dibiarkan terus menggelinding akibatnya bisa fatal di tengah situasi dunia yang tidak sedang baik-baik saja, terutama hal ini bisa mendorong terjadinya kekacauan yang lebih besar lagi. Saat suara yang seharusnya diserap, tapi dilontarkan lagi, dilemparkan ke sana ke mari, suara-suara itu akan berakumulasi menjadi percikan api.