Bom Maret

28 Maret 2021

"Cinta bisa menampilkan dua sisi yang berbeda, di satu sisi indah dan lembut seperti bunga, di sisi lain bisa mengerikan dan tajam laksana pedang. Atas nama cinta, orang bisa berkasih sayang, dengan cinta pula orang bisa saling menyakiti satu sama lain.."

Apa yang terjadi pada minggu siang hari ini di Makassar menyedihkan kita semua walau kejadian yang sama bahkan lebih terjadi menimpa saudara-saudara kita di belahan bumi lain, sebut saja Palestina dan Suriah. Namun, kita sedih kenapa hal ini bisa terjadi lagi di “rumah kita” sendiri dan menyasar pada saudara bangsa sendiri. Mengapa tiba-tiba saja setelah kita sudah lupa pada aksi teror terakhir, bom bunuh diri kembali terjadi. Berbagai pertanyaanpun mengemuka. Ada apa ini? Siapa pelakunya? Siapa otak yang berada di belakangnya? Apa motifnya? Apakah ini murni aksi terorisme atau by design? Apakah intelijen kecolongan, ikut bermain, atau sama sekali tidak mampu mencegah karena cepatnya dinamika masyarakat?

Bagi kita orang awam, pertanyan-pertanyaan itu tidak mudah untuk menemukan jawabannya. Kita jangan menyimpulkan terlalu cepat hanya berlandaskan asumsi. Namun, tentu saja kita masih bertanya-tanya. Apa yang mendorong para pelaku teror mau melakukan perbuatan yang dalam kacamata agama adalah sebuah kesalahan dan dosa yang besar. Sepertinya tidak perlu ilmu yang tinggi untuk memahami bahwa perbuatan merusak dan membunuh adalah dosa, terlebih dilakukan di tempat ibadah yang ditujukan kepada mereka yang sedang beribadah. Rasanya sulit untuk memercayai ada seorang muslim melakukan hal tersebut. Namun, jika benar demikian, doktrin seperti apa yang bisa membuat mereka meyakini bahwa meledakkan diri di tempat ibadah adalah hal yang bisa dibenarkan dan terhitung sebagai amaliah yang bisa mengantarkan mereka ke surga?

Kita mungkin tidak paham tentang pikiran atau nalar seorang yang melakukan perbuatan tersebut karena kita tidak memiliki nalar yang sama seperti mereka. Terlepas bahwa perbuatan mereka adalah sebuah kesalahan yang tidak hanya mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah, tetapi juga membuat suasana antar umat beragama menjadi hangat kembali, mereka yang menjadi pelakunya juga merupakan korban dari doktrin-doktrin sesat yang dilakukan oleh entah siapa dan sekali lagi diakui atau tidak, Islam kembali disudutkan, walaupun kita menyatakan bahwa aksi terorisme ini sama sekali bukanlah perbuatan orang beragama. Akan tetapi, pendeskreditan terhadap Islam tidak bisa terhindarkan datang dari pihak-pihak yang memang dengan kesadarannya memusuhi Islam, atau mereka yang berlandaskan pada faktor emosional hanya karena pelakunya seorang muslim.

Tentu tidak semua menyalahkan Islam atau muslim atas setiap aksi terorisme karena perbuatan tersebut tidaklah dewasa, bijak, dan cenderung berpikiran sempit, yang mana tidak jauh berbeda dengan sikap pelaku-pelaku teror. Sempitnya pengetahuan dan pendeknya nalar membuat seseorang bisa jatuh ke dalam kesalahan yang didorong oleh faktor emosional (perasaan) tertentu melahirkan sikap-sikap destruktif, salah satunya SARA.

Apa yang terjadi pada hari ini melukai keberagamaan kita dan bisa menjadi upaya provokasi untuk menimbulkan konflik, bukan hanya sekedar teror, atau ada hal lain selain itu?. Untunglah kita saling memahami bahwa terorisme itu tidak “beragama” walaupun memakai atribut agama atau bermotifkan pada agama. Kita menganggap mereka pelaku terorisme atas nama agama sebagai orang-orang yang “salah” jalan mengaplikasikan keyakinannya dan bentuk cintanya. Mereka adalah korban dari besarnya ghirrah yang tidak diimbangi dengan ilmu dan kesadaran sehingga mudah disetir untuk melakukan sesuatu yang akhirnya merugikan banyak pihak termasuk dirinya sendiri.

Sebagai muslim, mari kita jaga marwah agama kita dengan kembali pada nilai-nilai Islam yang sebenarnya. Ajaran Islam mustahil melahirkan terorisme karena hal tersebut bertentangan dengan tujuan Islam sebagai agama yang membawa perdamaian dan rahmat untuk semesta alam. Seorang muslim tidak akan mudah dan tega untuk membunuh, kecuali hal tersebut dilakukan secara darurat (bukan pilihan) dalam rangka membela diri dalam suatu insiden penyerangan terlebih dalam medan peperangan dan jelas hal tersebut tidak berhubungan dengan sikap sentimen terhadap agama lain. Saya meyakini agama bukanlah sumber konflik dan peperangan, tetapi lebih kepada adanya kepentingan manusia itu sendiri, entah itu politik atau ekonomi, dan untuk menyalakan bara konflik maka dibutuhkan isu-isu emosional, salah satunya agama. Agama hanya dijadikan tunggangan bagi pihak-pihak tertentu untuk bermain dan untuk mencegah dampak dari permainan tersebut kita harus menyatakan satu sikap bersama, salah satunya bahwa semua tindakan terorisme agama itu bukanlah perbuatan orang beragama. Bila hari ini terjadi pada gereja maka hal sama bisa terjadi di masjid, pura, vihara, kelenteng, dan tempat-tempat ibadah lainnya. Terorisme adalah musuh bersama umat beragama karena korban dari terorisme tidak memandang agama.

NB:

Apa yang saya tulis merupakan opini dan bukanlah suatu kebenaran yang mutlak. Kita berdoa semoga tidak ada lagi peristiwa sama di masa mendatang. Semoga semua korban pada hari ini bisa kembali pulih dan tidak menimbulkan trauma mendalam. Semoga Indonesia tetap aman dan jauh dari konflik dan kekerasan.