Catatan Najwa: Pahit... Tapi Mungkin Akan Ada Waktunya Kamu Mendengar Ini

Sebuah monolog dari kanal YouTube Najwa Shihab yang cukup menggugah rasa pada mereka yang menjadi korban dan penyintas kekerasan seksual.

Gelap. Entah harus berbuat apa. Entah mengawali lagi dari mana. Entah ujungnya akan seperti apa. Yang ada hanya marah, semarah-marahnya. Rasanya ingin memaki diri sendiri. Tidak pantas rasanya untuk dicintai, dihargai, bahkan sekadar diterima kembali. Tiap tengah malam, bergulat dengan pikiran sndiri. Pikiran gelap bertarung dengan pikiran jernih yang berjuang mencari jalan. Tapi ingatan membawanya kembali ke hari jahanam itu. Seperti adegan horor yang dipaksa ditonton berulang-ulang. Setiap hari adalah perbatasan antara terjaga dan mimpi buruk. Dan tahukah apa yang lebih mengerikan? Merasa sendirian. Orang-orang baik rasanya menjauh selangkah demi selangkah, seperti berada di terowongan hitam. Gelap. Sendirian. Tidak berdaya. Itu kata-kata, ungkapan, yang biasa meluncur secara terbata-bata, setengah tertahan, dari para korban kekerasan seksual. Yakinlah, itu hanya sebagian yang mampu mereka utarakan. Mungkin, akan ada waktunya kamu, kita, harus siap mendengarnya ketika dibutuhkan. Peran yang tidak mudah. Berbagai keraguan juga kita rasakan:

“Bagaimana agar korban bisa pulih?”

“Apa yang harus aku katakan agar tidak memicu trauma?”

“Bagaimana jika masalahnya lebih besar dari yang kita sangka?”

Pertama, dan utama. Percaya. Tidak ada pendampingan tanpa rasa percaya. Faktanya, mereka yang bisa bertahan, biasanya lebih mungkin mengeci-ngecilkan kekerasan yang dialami dibanding membesar-besarkan. Bila mereka serela itu percaya menceritakannya kepadamu, kenapa justru kamu yang ragu? Yang bersalah adalah pelaku, tidak pernah korban. Mereka tidak memilih untuk menerima kekerasan. Mereka tidak layak menerima kekerasan baru berupa pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Cukup dengarkan. Wajarkan andai mereka bercerita tak runtut, melompat-lompat. Ini yang perlu membuat kita perlu menjadi pendengar terbaik yang dapat mereka temukan, bahkan walau mereka minta didengarkan pada jam-jam paling tidak masuk akal sekalipun. Validasi perasaan mereka: marah, sakit, takut. Apa pun. Temani sampai mereka mampu berdiri dengan kakinya sendiri. Lalu biarkan mengambil keputusan berdasarkan akal sehat dan pemahamannya terhadap risiko yang ada. Kekuasaan mereka atas tubuhnya telah dirampas, yakinkan mereka mampu mengambil kembali kuasa akan hidupnya, dimulai dengan membuat pilihannya sendiri. Teman-teman, katakan pada mereka,

“Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun,”

“Kamu mampu melewati ini, tak akan sendiri,”

Ada orang-orang yang mau mendengar, membantu, menunggu. Dan tolong, ada satu yang harus selalu kamu beri kesempatan, berkali-kali, yaitu waktu. Bertahan. Jangan memilih padam.

Catatan:

Saya merasa miris dengan merebaknya kasus-kasus yang akhir-akhir ini meramaikan linimasa di media sosial bersama dengan kasus-kasus amoral lainnya. Lebih miris lagi karena kasus-kasus ini terjadi di lingkungan yang seharusnya bersih dari tindakan amoral dan oleh orang-orang yang idealnya mustahil melakukannya. Mulai dari lingkungan pendidikan, penegakan hukum, hingga yang lebih parah lagi adalah di lingkungan keluarga. Perbuatan amoral ini menyebar tidak mengenal status sosial, pekerjaan, dan hubungan kekerabatan dengan korbannya. Seperti yang kita dengar baru-baru ini, ada korban yang dirudapaksa oleh beberapa pelaku yang mirisnya adalah teman dari suaminya sendiri dan mendapatkan intimidasi oleh dua oknum berseragam yang menangani kasusnya. Berita ini bersamaan dengan kasus seorang oknum ustadz yang menjadi pengelola dan pemilik sebuah tempat pendidikan yang telah melakukan perbuatan bejatnya pada belasan santriwatinya. Lalu sebelumnya lagi seorang oknum dosen, lalu sebelumnya lagi seorang oknum polisi yang membuat korbannya berakhir tragis, bunuh diri. Menambah panjang deret daftar hitam yang membuat negara kita menjadi berbahaya untuk kaum yang rentan.

Apa yang mengemuka di media hanya pucuk kecilnya saja, yang belum mengemuka pasti lebih banyak lagi bila dicari dan dikumpulkan. Hal ini benar-benar mengkhawatirkan, ada apa ini? Mengapa bisa terjadi seramai ini? Degradasi moral yang parah. Saya sendiri hanya bisa mengutuk tanpa solusi. Mengapa saya menulis hal ini? Karena masalah amoral adalah masalah yang sudah lama menjadi perhatian, dan sering diwanti-wanti dari dahulu tetapi seakan terus dibiarkan menggelinding begitu saja dan akhirnya menjadi liar. Masalah ini menimbulkan banyak masalah lainnya secara berantai dan masif. Meski moral saya sendiri belum sebaik orang-orang yang baik tetapi mendengar berita-berita semacam ini, membuat saya prihatin akan kondisi kaum yang rentan oleh bayang-bayang suram predator yang bergentayangan di mana-mana.

Kita perlu solusi. Perbaikan moralitas yang menyeluruh dan sistematis melalui kebijakan-kebijakan dalam pendidikan, sosial budaya, dan hukum. Menciptakan kondisi yang ramah pada kaum yang lemah. Merantai para predator dan tidak memberinya ruang kesempatan sekecil apapun. Tegakkan hukum yang tajam. Benahi moral para penegak hukum, para pejabat, hakim-hakim, guru-guru, kaum agamawan, karena merekalah garda depan untuk perbaikan moral. Butuh waktu yang cukup panjang untuk mengintegrasikan kesadaran moral, dan selama belum mencapai tujuan tersebut, persempit ruang para predator, para pelaku kekerasan seksual agar mereka tidak bebas menjalankan aksinya. Tidak punya kesempatan untuk melakukannya pada orang-orang di sekelilingnya. Awasi dan beri sanksi yang berat.

Masalah kekerasan seksual adalah salah satu dahan dari batang bernama amoral. Akhlak buruk dan pelanggaran syariat, norma, dan juga hukum. Sayangnya kita sebagai masyarakat luas masih memandang kekerasan seksual sebagai aib dan cenderung menghakimi para korbannya, alih-alih menyalahkan sepenuhnya pada para pelaku. Sikap menyudutkan ini menunjukkan telah hilangnya rasa simpati dan empati pada korban kekerasan. Hal ini menambah runyam persoalan dan tekanan psikis yang dialami oleh para korban. Tidak hanya dalam bentuk ancaman dan intimidasi para pelaku, juga penilaian masyarakat luas. Mereka yang seharusnya mendapatkan dukungan justru malah disudutkan.

Kalian yang berada dalam titik nadir kehidupan dan merasa dirinya berada dalam lumpur hitam di dalam kubangan. Percayalah, kalian adalah lebih hebat dan lebih kuat dari kami semua yang tidak pernah ada di titik yang sama seperti kalian. Bila saja kalian lebih memilih percaya dan sedikit saja bertahan. Teruslah hidup, bangkitlah, dan sadarkanlah kami untuk gaungkan perubahan untuk menolong lebih banyak orang seperti kalian. Jangan pernah menyerah dan memilih untuk mengakhiri semua yang dirasa dengan cara yang membuat kami marah pada diri kami sendiri yang tidak mampu melindungi dan lebih awal untuk menolong, dan lebih-lebih kemarahan kami kepada para pelaku.