Cinta Pertama Kita

17 July 2017

Orang bilang: cinta sejati adalah cinta yang pertama. Cinta sejati tak akan pernah bisa dilupakan, seperti goresan tajam yang dalam. Mungkin butuh waktu yang panjang melebihi usia untuk bisa menghapusnya dari kenangan. Mencabutnya dari hati, meski hal tersebut tak akan mungkin, karena hati tidak dibuat dari benda. Hati itu memang sebongkah daging, tapi hati dimana ada cinta adalah hati bagian dari inti jiwa kita, terus mengiringi kemana pun kita pergi. Melintasi ruang dan waktu, hingga tiba di keharibaan-Nya.

Angan dan harapanlah yang menancapkan keindahan di dalam hati. Mengaburkan realita dunia, menyamarkan nafs, dan menelikung cinta. Realita dunia adalah ujian, cinta pun demikian. Realita dunia adalah kesementaraan, termasukkah cinta di hati kita?

"Ujilah sebab cinta itu darimana ia bermula, agar tidak menjadi sebab dari hilangnya cinta.”

Banyak cinta yang bermula dari sesuatu yang rapuh. Dan jika sebab-sebabnya hilang, hilang pula rasa cinta itu. Tak sedikit, bahkan mungkin banyak, nafsu dikatakan sebagai cinta, hingga tak sedikit yang kecewa, terbuai oleh rasa, tertipu oleh kata-kata.

Cinta adalah cinta. Sulit didefinisikan secara akurat. Cinta merupakan pengalaman batin seseorang, hanya orang tersebutlah yang merasakan dengan sebenar-benarnya. Kita hanya bisa merasakan sebatas pada pengalaman yang kita miliki mengenainya, sejauh langkah hati dalam menyusuri tepi liukan rasa.

Cinta adalah keindahan, banyak orang bilang. Benarkah? mungkin benar, mungkin itulah harapannya, itulah tujuannya, keinginan nanti di ujung hari, seperti senja saat matahari tinggal setengahnya saja, namun tetap saja indah: dipandang, dan dirasa.

Apa tujuan tertinggi dari cinta? Penyatuan, bahkan meski harus hilang sekalipun melebur dengan yang dicinta…

Maka hanya cinta yang benar saja yang menempatkan hati di posisi yang proporsional sesuai garis batas yang ditetapkan oleh Pemilik Agung. Sebab hanya Dialah satu-satunya yang tahu apa itu cinta dan bagaimana sesungguhnya cinta itu. Dia pencipta cinta tentu Dia yang lebih indah dari cinta. Dia yang Yang Maha Besar tentu Dia yang lebih Sempurna cintanya. Dia Yang Maha Kuat, tentu hanya Dia yang mampu menguatkan hati para pecinta-Nya, yang tergila-gila dengan-Nya, memuja-Nya, menyebut nama-Nya, senantiasa membaca surat-Nya, pesan-pesan-Nya. Bahkan, satu ucapan terakhir saat perpisahan dengan dunia adalah menyebut nama-Nya, dan nama kekasih-Nya. Dan dengan simpul senyuman datang ke dalam pelukan-Nya dengan rasa bahagia yang tak terkira. Maka rugilah seseorang mengabaikan cinta-Nya dan berpaling dari wajah-Nya. Hanya di dunia ini Dia begitu kasih, memberi tanpa meminta lebih. Dia melindungimu dari keburukan dunia. Dia membatasimu untuk tidak jatuh dalam dosa seperti jatuhnya Ibu dan Bapak kita dari “Surga”. Dia begitu ketat mengawasi, tetapi Dia tetap memberimu ruang luas untuk bebas berbuat. Siapa yang lebih hebat cintanya selain Dia? maka siapakah yang lebih pantas untuk mendapatkan cinta darimu? Siapakah cinta pertama?

Mungkinkah si dia: seseorang yang pernah hadir dalam hati kita, yang hadirnya hanya dalam waktu-waktu tertentu dan saat ia tak ada, bayangannya mengisi relung hati dan pikiran kita, atau Dia: Tuhan yang menciptakan kita, yang hadirnya di segala waktu di manapun jua, yang tatapan mata-Nya tak pernah luput memandangmu, yang tak pernah jauh darimu sebab Dia begitu dekat bahkan sangat dekat.

Cinta pertama itu mengalir di urat nadimu, mengalir dalam darahmu. Tiupan ruh ciptaan-Nya menjadikanmu hidup. Membuat hatimu berdegup saat nama-Nya terucap karena hatimu lebih dulu tau akan Dia, mengenal-Nya, karena hati-mu yang selalu dilihat-Nya dan selalu didengar-Nya.

Siapakah cinta pertama?

Cinta membuat kita ada, tanpanya kosong. Membuat kita hidup, tanpanya mati. Cinta membuat kita bergairah, senang, dan bahagia, meski sedih, atau menderita karenanya, tetap saja dirindu dan disenangi. Maka pantaskah kita mengabaikannya? mengabaikan cinta yang datang pada kita, sebab cinta yang kita miliki untuk mencinta adalah berasal dari-Nya.

Siapakah cinta pertama?

Tentu adalah Dia, yang membuat berada untuk selamanya, meski terbatasi waktu saat hadir di dunia. Kehidupan dunia membungkus kita dengan tubuh yang fana, tubuh yang kelak akan menua, rapuh, sebelum akhirnya tersungkur jatuh, lepas kita dari sang raga. Dan saat itu, hanya Dialah tumpuanmu, bergantung pada apa yang tela kita kerjakan saat-saat ini di dunia. Maka, janganlah engkau abai dari-Nya, sehingga Dia tak abai padamu saat engkau butuh pada-Nya.

Tak ada kesempurnaan dari sesuatu yang satu dan utuh, kecuali terbagi ke dalam dua hal yang berbeda: bersinergi dan berkolaborasi. Kesempurnaan dalam kamus manusia adalah keseimbangan, sementara kesempurnaan bagi-Nya adalah milik-Nya secara utuh dan penuh.

Siapa cinta pertama?

Kau bisa memilih Dia sehingga menjadi pecinta-Nya saja, atau memilih kekasih duniamu dengan cinta atas nama-Nya, atau kekasih duniamu dengan kehendak nafsumu tanpa-Nya, atau kekasih duniamu dengan cinta yang tersimpan, cinta yang melahirkan doa-doa pada-Nya untuknya.

17 July 2017