Denyut Nadi yang Kembali

17 July 2020

Jika sejarah bisa memutar maka sejarah itu akan mengulangi hal sama karena bukan semata kehendak sebagian orang melainkan ada kehendak yang lebih besar mengapa suatu peristiwa yang menjadi sejarah bisa terjadi.

Dalam konteks apa pun kita tidak bisa mengubah yang lalu sekalipun kita mundur sebab kita hanya akan mengulangi langkah yang sama, kecuali kita membuat langkah yang baru dengan arah yang baru bukan arah yang sama.

Hagia Sophia (Ayasofya) adalah hadiah dari kemenangan Islam yang diwakili oleh Daulah Usmani (Kekhalifahan Utsmaniyah) di bawah kepemimpinan Sultan Mehmed II (Muhammad al-Fatih). Menjadikan Ayasofya sebagai museum adalah kemunduran dan terbukti menjadi kemunduran Islam dari panggung peradaban. Menjadikan Ayasofya sebagai masjid kembali adalah awal dari tonggak kebangkitan. Bangkit dari mati surinya sebuah kekuatan yang pernah digdaya di masa lalu.

Insya Allah, ini akan menjadi sejarah, sama halnya saat direbutnya kota Konstantinopel pada 1453 (857 H) yang sekaligus mengubah Ayasofya menjadi masjid, dan kotanya bernama Islambul (Istanbul). Dunia kemudian berubah dimulai dari benua biru dan menjalar ke seluruh dunia.

Lalu perubahan apa kali ini yang akan terjadi ketika Ayasofya mulai menjadi masjid kembali? Tentu perubahan tersebut tidak serta merta terjadi tanpa sebuah kemajuan yang diraih dalam berbagai bidang dan itu ada PR umat untuk menyelesaikannya. Membangun pilar-pilar untuk menyokong peradaban. Ayasofya adalah simbol dari denyut nadi yang kembali terasa saat adzan berkumandang di atas langit-langitnya, seakan berkata lantang, “Tunggulah, kami akan datang…”

Wallahu A'lam…

17 July 2020