Semburat

25 Maret 2021

Kepentingan dunia membutakan mata dari kebenaran ukhrawi yang telah diperingatkan-Nya untuk diteguhkan dalam ingatan. Agar tak sampai kita terseok-seok melangkah menyusuri labirin dunia dengan kegelapan hati karena lalai dari-Nya seiring zaman mulai redupkan kesalihan dan mencabut ilmu dan kesadaran dari dada manusia. Kemaksiatan menghebat merajai setiap tubuh-tubuh yang letih untuk taat dan terguncang jiwanya karena hasutan dan ancaman dunia. Tiada yang takut, kecuali yang tidak pernah takut pada-Nya. Mereka yang beriman menghabiskan ketakutan mereka pada Allah dan tidak menyisakannya pada dunia. Sudahkah kita mencapai tingkatan ketakutan semacam itu? Ketakutan yang melahirkan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran di alam yang dikuasai sesaknya kebatilan.

Tentu tugas demikian tidak mudah dilakukan bila kita belum sampai pada kebenaran yang kaffah. Kebenaran tanpa celah dari kesalahan dan keburukan. Tidak mungkin benang basah bisa berdiri tegak. Namun, kita lupa, kita manusia biasa. Kesalahan dan keburukan akan selalu ada pada diri-diri kita, baik yang kuat maupun yang lemah. Kita bukan manusia suci dan terbebas dari “dosa” menurut pandangan manusia. Apa yang tidak salah pun bisa disalahkan apalagi yang memang benar-benar itu adalah salah. Mungkin Allah sedang menguji hamba-hamba-Nya dengan kesalahan dan keburukan itu untuk mencobainya sejauh mana hamba-hamba lain membela saudara kandung imannya. Bukan membela atas keburukannya, tetapi membela dari kebatilan yang berusaha merobohkan kebenaran yang ada padanya.

Keadaan hati menjadi sangat sentral dalam kehidupan seorang insani karena segala penilaiannya: baik dan buruk dipengaruhi olehnya. Bayangkan bagaimana keadaan hati yang telah ingkar itu? Hati mereka telah terbalik, bukan hanya buta, sehingga terbaliklah segala anggapan baik dan buruk menurut mereka. Mereka memasukkan kepalsuan di dalam ucapan yang benar, dan menyatakan maksud hati yang sebenarnya dengan perbuatan yang ditampakkan di waktu yang lain. Pagi beriman sorenya menjadi kafir. Taat dalam keramaian tapi ingkar di kala sepi. Memperindah perkataan dalam menyebut nama-Nya, namun tidak di dalam munajatnya. Nama-Nya hanya sampai pada akalnya, tetapi tidak sampai ke dalam kalbunya. Begitu juga pada ayat-ayat-Nya yang hanya sebatas terucap di lidahnya.

Mereka yang baik akan dimudahkan pada kebaikannya hingga sampailah mereka pada kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang menambah keyakinan pada hatinya dan menjadikannya selamat pada kejatuhan fitnah yang membunuh imannya di hari di mana keselamatan itu hanya Dia yang memberinya melalui benteng-benteng-Nya. Mereka mempercayai-Nya meski tak pernah melihat-Nya dan mendengar-Nya. Allah menjadi tanya di kala meragu, dan menjadi jawaban mutlak di kala puncaknya saat rasa harap dan takut yang menjadi satu.

Perbaikilah diri di kala waktu masih ada untuk mengisi “amunisi” sebelum kesadaran hilang dimakan huru hara keadaan dan membius jantung kesadaran yang membangkitkan naluri primitifnya untuk bertahan. Cukuplah menjadi orang yang baik karena kebaikan pada akhirnya tidak akan salah memosisikan dirinya dalam perkara-perkara yang samar sekalipun di zaman yang akan semakin larut pekatnya dengan keburukan.

Wallahu A’lam