Hanya Ujian dan Cobaan

05 May 2020

Kebenaran itu relatif, termasuk tentang apa yang kita pikirkan dan kita rasakan. Tak selalu semua itu benar. Tak selalu itu baik. Kita sangat mungkin lebih rentan jatuh pada kesalahan dan keburukan daripada mengambil kebijaksanaan, kebaikan, dan kebenaran. Sangat manusiawi.

Saat kita merasa buruk, rasanya sulit untuk berpikir baik, tapi tak harus kita menjauhi kebaikan dan hal-hal yang mengajak kita pada sisi terang, dan tenggelam pada sisi kelam, abu-abu, dan akhirnya perlahan menjadi gelap.

Jalan lurus itu melelahkan dan meletihkan, hati lebih suka berjalan berkelok-kelok, meliuk-liuk sesuai mood. Itu sifat hati, sangat manusiawi. Lebih tertarik pada sesuatu yang menjadi daya magnet hidupnya. Meski itu tidak baik. Sangat manusiawi.

Berdamailah, tenangkan hati, syukuri hal kecil, berdoalah..

Jangan selalu melihat pada sisi gelap peristiwa, sebab Allah selalu menyisipkan sisi terangnya. Tinggal bagaimana kita melihat sisi terang tersebut demi kebahagiaan dan kelapangan jiwa. Tidak merasa susah dan sempit hati karena Allah ingin menyelamatkan mereka yang percaya pada-Nya dan membuat mereka bergembira dengan datangnya kabar baik-Nya.

Kita harus percaya, apapun yang terjadi, semua itu ada kebaikan untuk kita, hamba-hamba-Nya. Dia memberi ujian dan cobaan untuk kita dengan maksud tanpa menyiksa dan menyakiti, sebab dunia bukaan tempat siksaan bagi hamba-Nya. Dunia tempat ujian dan cobaan. Bersyukurlah dan bersabarlah, optimislah, hari yang cerah akan datang untuk mengganti hari-hari yang gelap. Setelah masa sempit dan susah ini akan datang masa untuk merayakan kegembiraan dengan rasa syukur.

Perhatikan dan jagalah diri dari apa yang didengar oleh telinga dan apa yang dilihat oleh mata. Jangan dengarkan dan lihat sesuatu yang membawa hati pada suasana yang tidak baik, yang sebenarnya itu palsu. Mengelabui hati manusia agar masuk pada titik jatuhnya. Dengarkanlah Al-Qur’an, ingatlah negeri akhirat. Suami - istrimu dan anak-anakmu adalah saham untuk kebaikanmu di akhirat. Tanamlah kebaikan pada mereka agar buah dari kebaikan itu akan kau petik di Surga.

Bagi yang masih sendiri, bersabarlah, ada banyak nikmat Allah yang masih bisa kau rengkuh dan syukuri. Memiliki pasangan memang sungguh menguatkan nikmat Tuhan terlebih bila kau mencintainya, cinta yang tulus. Cinta itu indah apalagi bila kau bisa memilikinya, dan membersamainya. Namun, bila itu tidak terjadi, jangan merasa hidupmu menjadi kelam, buram. Ada banyak tonggak semangat yang bisa kau tancapkan di bumi ini selagi kau masih hidup.

Allah tahu segala hati dan mau manusia. Apa impian dan harapan mereka. Apa hal terbesar yang diinginkan oleh jiwa-jiwa mereka. Apa semangat, ghirrah mereka dalam hidup ini. Apa tujuan mereka, kebahagiaan, ketakutan, dan kesedihan mereka. Allah tahu semuanya.

Hidup ini hanya ujian. Siapakah yang lebih tahu mana yang baik dan buruk untukmu selain Allah? Allah menguji dan mencobai kita berdasarkan dari apa yang diinginkan oleh hati kita, oleh nafsu kita, oleh pikiran kita. Bila kita menang atas ujian-Nya, dan layak setelah mendapatkan cobaan-Nya, Allah akan memberikan, dan mengganti 2x yang lebih baik dari apa yang kita inginkan. Tidak hanya itu, apabila sang hamba ridho pada ketentuan Allah pada dirinya apapun ketentuannya, dan Tuhan ridho padanya: Surga untuknya. Tidakkah kau menginginkan Negeri yang sejuta kali lebih baik dari seluruh dunia dan isinya?

Lalu apa ruginya kita bersabar “sedikit” saja di dunia?

Bila itu terasa berat, tidak mudah, begitulah sifat ujian dan cobaan. Tidak ada yang mudah, kecuali jiwa yang ikhlas, maka ikhlaslah dalam mempercayai-Nya. Berpegang teguhlah pada ketaatan pada-Nya, jangan kau lari menghindari-Nya dan mencari sesuatu lain yang semu dan palsu untuk menyandarkan diri.

Berjalanlah, meski hanya dengan merangkak, perlahan menuju sisi terang. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang dimudahkan.

Aamiin.

Optimislah pada segala kebaikan dan kebahagiaan yang akan datang dalam hidupmu. Itu akan mengusir pergi pikiran dan perasaan yang buruk. Kebanyakan pikiran dan perasaan yang tidak baik itu berasal dari Setan. Setan tidak memberi manfaat pada manusia kecuali menambah beban dan kesedihan. Kesedihan yang baik hanya kesedihan yang timbul karena suatu perenungan (tadabbur) yang membawa diri pada manfaat berupa kesadaran diri, pencerahan, dan rasa bergantung kepada Allah, Tuhan kita.

Kesedihan yang tidak baik adalah kesedihan yang tidak membawa manfaat apapun pada kita, justru malah membawa diri kita pada sisi kelam. Membuat kita terjungkal jatuh pada lembah pergumulan. Hati menjadi berat, sempit, hilang semangat, timbul rasa putus asa atau hilang harap (hopeless), merasa kosong dalam hidup, tidak bisa merasakan adanya kebaikan, pikiran dan perasaan menjadi terasa tertekan. Kesedihan semacam itu membawa pada keburukan, dan keburukan itu tidak lain adalah karena ulah setan yang ingin membuat manusia jatuh kedalam kebinasaan yang kekal.

Perasaan apapun yang ada, baik atau buruk, selama itu tidak melebihi kewajaran, itu manusiawi, namun bila berlangsung lama dan akhirnya menjadi akut, sadarilah. Kita harus melepaskan diri dari belenggu perasaan itu. Caranya? Belajar perlahan untuk menyadarinya. Ajaklah diri untuk berdialog, berdiskusi, berpikir, kalau perlu tuliskan semua keresahan dan kesedihan itu pada selembar kertas. Tulislah. Ungkapkan hatimu. Alirkan isi pikiranmu. Bila sulit, ungkapkan pada temanmu yang terpercaya. Teman yang mau mendengarkan tanpa ingin mencampuri dengan opininya, hanya ditanggapi seperlunya. Kau hanya perlu seorang pendengar bukan hakim atau konsultan, kecuali kau sedang ragu dan bimbang tentang suatu pilihan atau sedang meminta pertimbangan.

Untuk menjaga hati, jagalah setiap indera. Salah satunya, jangan dengarkan musik atau lagu yang senafas dengan suasana hati. Jangan biarkan mood yang tidak baik itu mendapatkan asupan yang menambah mood menjadi lebih buruk. Jangan dengarkan lagu-lagu yang efeknya membuat hati “babak belur”. Dengarkan hal yang baik, yang membuat hati dan pikiran rileks, seperti mendengarkan senandung Al-Qur’an dibacakan. Mungkin awalnya hati menolak, paksakan, coba dengarkan selama 5 menit. Al-Qur’an adalah obat dan penawar hati. Kalau perlu kau bacakan hingga hati merasa nyaman.

Lupakan sejenak perasaan yang membuat hati menjadi kelabu. Kuncinya ada di dalam proses pembiasaan hati untuk merasakan, sehingga kecenderungan hati akan condong ke sisi yang baik daripada ke sisi yang kurang baik. Lebih mendengarkan dari sisi terang, daripada sisi gelap. Membuat diri punya kendali untuk memilah pikiran dan rasa. Hingga apabil hati sudah steril atau netral, seburuk apapun hal yang kau alami, hati tidak akan mudah jatuh ke dalam rasa sedih atau rasa takut karena dihantui oleh rasa was-was. Semua ingatanmu dan kenanganmu yang dulu, akan disterilkan, hingga tak terasa lagi luka dan dukanya. Memori itu tetap ada, tapi kita akan merasakannya berbeda. Itulah hati yang terbebaskan dari belenggunya. Begitu juga dengan rasa khawatir akan masa-masa yang akan datang, tentang jodoh, tentang rezeki, maut, dan hidupmu kelak.

Semua peristiwa yang kau anggap hantu, sebenarnya tidak begitu. Tuhamu tidak ingin menakutimu. Dia ingin membebaskanmu. Maka belajar melepaskan dan menerima semua ketentuan-Nya. Semua itu hanya ujian dan cobaan. Sandarkanlah diri pada-Nya.

Dini hari, 12 Ramadan 1441 / 5 Mei 2020

05 May 2020