Jum'at Berdarah di Pelataran Al-Aqsha

10 Mei 2021

Seakan tidak berdaya, Dunia tak melakukan apapun hanya ucapan belaka mengecam perbuatan Jum’at lalu. Al-Quds kembali ramai beritanya, lebih ramai lagi dari biasanya, saat pemuda-pemuda Palestina berhadapan dengan sepasukan Zionis Israel yang untuk kesekian kalinya menginjakkan kaki-kakinya di pelataran Masjidil Aqsha.

Masih sama, tak berubah, buntut dari sengketa wilayah penyebabnya. Zionis Israel tidak akan pernah berhenti hingga kota Al-Quds yang juga bernama Yerussalem itu sepenuhnya jadi milik mereka. Menguasai dan mengusir pergi satu demi satu warga Palestina dari rumah-rumahnya di Sheikh Jarrah dan diberikan kepada pemukin Zionis Yahudi. Tanpa tahu malu, warga Zionis Yahudi itu mengklaim rumah-rumah itu sebagai milik mereka, warga Palestina yang protes dan melawan akan berhadapan dengan Polisi Zionis Israel.

Puncaknya malam itu, pelataran Masjidil Aqsha menjadi saksi perjuangan para pemuda yang membela tanah airnya dari pendudukan yang dilakukan secara perlahan. Bila mereka tak melawan bisa saja di kemudian waktu tak akan ada lagi orang Muslim Palestina yang mendiami Yerussalem Timur yang bagi Zionis Israel adalah ibu kota “sebenarnya” Israel di mana di dalamnya terdapat Masjidil Aqsha, kompleks suci umat Islam.

Masjidil Aqsha pun bisa terancam karena ingin dirubuhkan dan dibangun Haikal Sulaiman milik Yahudi bilamana wilayah Yerussalem Timur jatuh sepenuhnya menjadi milik Zionis Israel. Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan oleh umat Muslim dunia sebab Al-Quds adalah termasuk tanah suci dan Masjidil Aqsha adalah salah satu kompleks masjid yang memiliki keutamaan bagi Muslim setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Namun, kita terheran-heran, mengapa umat Islam yang notabene memiliki jumlah yang lebih besar cenderung “mengalah” dan terkesan “kalah” di bandingkan dengan Zionis ‘Yahudi’ Israel dengan kepentingannya terhadap wilayah Palestina yang didudukinya secara ilegal dengan tidak mematuhi resolusi PBB No. 242 tahun 1967. Lebih heran lagi, tidak ada sama sekali upaya sanksi nyata terhadap kejahatan dan pelanggaran hukum yang dilakukan Zionis Israel. Meski berkali-kali Zionis Israel tidak mematuhi resolusi, Amerika Serikat dengan menampakkan “kekecewaan” formalitasnya tetap saja mendukung Zionis Israel.

Saya pribadi tidak memiliki permasalahan dengan Yahudi secara individu, agama, atas ras bangsa karena permasalahan utamanya adalah paham Zionisme yang membuat derita panjang bagi saudara-saudara kita di Palestina. Namun, tidak berarti kita bisa berhubungan dengan mereka (khususnya warga Yahudi Zionis Israel) seolah tidak terjadi apa-apa. Sikap tegas haruslah ditunjukkan sebagai tekanan dan hukuman tidak resmi. Berhubungan secara diplomatik dengan “penjajah” adalah sama dengan merestui pendudukan ilegal yang mereka lakukan. Menyebut Zionis Israel sebagai “Negara Israel” adalah sama dengan mengakui eksistensi Zionis Israel sebagai sebuah negara merdeka seperti negara-negara lain di dunia sementara Palestina sampai hari ini tetap disebut sebagai “wilayah” bukan negara yang diakui resmi.

Pendudukan Zionis Israel atas wilayah Palestina adalah sesuatu yang nyata dan dunia mengetahui hal tersebut, akan tetapi mengapa tidak ada upaya untuk menghentikan pendudukan tersebut dan mengembalikan wilayah yang dirampasnya. Apakah dunia buta dan tuli terhadap penderitaan warga Palestina yang terintimidasi di tanah airnya sendiri? Mungkin apa yang saya tulis berlebihan karena kenyataannya tidak semua orang Palestina diperlakukan buruk, terutama sekali yang telah menjadi warga (negara) Zionis Israel. Bagi mereka yang tidak melawan dan mematuhi aturan hukum di wilayah pendudukan tentu saja mereka akan aman dari gangguan dan serangan.

Tidak akan ada perlawanan atau aksi-aksi protes bilamana tidak ada hak-hak warga Palestina yang dilanggar. Tidak akan ada rudal-rudal yang diluncurkan dari Jalur Gaza sebagai “jawaban” terhadap kekerasan yang terjadi di Tepi Barat dan Yerussalem Timur. Mereka hanya ingin membela saudara-saudaranya, sementara mereka penduduk Jalur Gaza itu terblokade sendiri di pojok Barat. Mereka adalah pejuang bukan teroris karena teroris yang sebenarnya adalah Zionis Israel.

Saya berharap akan adanya perdamaian, dan perdamaian tersebut tidak akan terlaksana sebelum Zionis Israel hengkang dari wilayah-wilayah Palestina yang didudukinya semenjak 1967. Apakah Zionis Israel akan melakukannya? Bila Dunia saja diam tanpa melakukan apa-apa terhadap Zionis Israel maka tidak ada alasan bagi Zionis Israel melakukan perdamaian seperti yang diinginkan oleh Palestina. Perdamaian bagi Zionis Israel adalah pengakuan terhadap eksistensinya sebagai negara di atas wilayah Palestina terutama dari negara-negara Muslim. Bila pengakuan tersebut diberikan meski hanya tersirat berarti kita telah melukai perjuangan rakyat Palestina. Berarti kita telah menyerahkan Al-Quds dalam kekuasaan penuh Zionis Israel dengan konsekuensi kehilangan Masjidil Aqsha.