Kerusakan

Ada banyak kekosongan daripada apa yang menjadi isi. Ada lebih banyak yang tidak kita ketahui daripada apa yang kita ketahui. Kita besar bagi yang kecil dan kecil di hadapan yang besar. Siapa kita, begitu relatifnya.

Kita menegasikan sesuatu karena sesuatu itu menyakitkan padahal dari diri kita sendiri asal dari rasa sakit itu (pikiran dan hati, kecuali sakit yang disebabkan penyakit dan sebab-sebab di luar kendali kita). Bukankah Allah tidak pernah menyakiti kita? Kitalah yang menyakiti diri kita sendiri. Asal semua bahagia dari yang menginginkan keselamatan dan keamananmu di dunia dan di akhirat (adalah Allah- Tuhanmu). Asal semua derita dari dalam diri yang berupa syahwat buruk, satu bagian dari jejak langkah yang menginginkan penderitaan dan kecelakaan besar di dunia dan di akhirat (adalah Iblis - musuhmu).

Ambillah jalan yang pertengahan karena jalan itu jalan yang lebih baik untuk kita. Bukan langkah seperti langkahnya orang yang kalah (berlemah diri hingga keluar dari ketaatan), atau langkahnya orang yang terbelenggu (oleh ego, syahwat, dan paksaan). Namun, langkahnya orang yang merdeka (ikhlas, bersyukur, dan berpengetahuan).

Jalan pertengahan merupakan jalan pilihan untuk orang-orang yang menahan hawa nafsunya dari sikap berlebih dalam setiap perkara. Jalan seimbang yang memberi ruang pada akal dan keyakinan. Ruang yang memiliki banyak sudut dan bidang. Bukan hanya satu bidang datar yang tidak mengenal arah lain selain arah yang dimilikinya.

Ego dan nafsu dirilah yang menyebabkan kita menjadi seperti yang dikatakan oleh para malaikat: makhluk yang berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah di muka bumi.

Wallahu A'lam