Kesaksian

13 Februari 2021

Adanya harapan membuat kita mampu bertahan dan tetap kuat berpegang. Kenapa kita berharap? Karena masih percaya (iman). Iman adalah inspirasi. Baik lapang maupun sempit. Baik sendiri maupun beramai. Baik sedih maupun gembira. Baik takut atau berani. Tak akan surut meski tertekan. Tak akan mengendur meski jalannya lapang. Masih tetap sama. Perubahan tidak mengganti keyakinan. Perubahan hanya mengganti bagaimana cara melangkah bukan mengubah jalan dan tujuan.

Telusurilah apa yang ada di balik peristiwa, bukan sekedar mengalami peristiwa itu. Tidak merasakan sebatas apa yang sedang dirasakan. Gali dan temukan apa yang menyebabkannya demikian. Jika gelisah, jangan terlalu merasakan kegelisahannya. Carilah apa yang membuat gelisah itu. Jika merasakan cinta, janga hanya sebatas larut dalam perasaan cinta itu, tapi carilah sumbernya hingga kita tidak akan pernah merasakan kehilangannya. Jangan melihat pada apa yang ada hingga terkurung pada kata “ada”, dan akhirnya lara pada kata “tidak ada”. “Ada” atau “tiada” tetaplah “ada”, tak berubah, karena Yang telah menjadikannya “ada” akan tetap selalu ada.

Percaya adalah ikatan yang mengikat hati untuk tetap berkiblat pada satu arah meski satu arah itu tak bearah. Arahnya adalah arah untuk semua arah. Seperti dalam kakbah. Ketika kita sudah ada dalam inti tujuan maka kita adalah tujuan. Seperti halnya memanusiakan manusia membuat kita menjadi manusia.

Kita lahir bersama dengan tangisan dan kembali diakhiri dengan tangisan. Kita ada dari kelopak mata yang tertutup dan kembali dalam kondisi menutup. Kita telanjang hanya berselaputkan ketuban, dan ketuban kita kelak adalah kain kafan. Dinginnya rahim bumi menggantikan hangatnya rahim ibu. Mengubah kita dari manusia menjadi butiran debu.

Jangan cari “aku” sebab “aku” tidak ada. “Aku” yang ada hanyalah Dia Yang Satu. Dia yang paling berhak meng"Aku” bukanlah aku yang mengaku-ngaku yang hakikatnya tidak ada. Kita hanya meminjam sebagian kecil dari keberadaan-Nya untuk “ada” yang dalam takaran di sisi-Nya itu hanyalah sekejap saja.

Yakin dan percaya tanpa ragu (iman) adalah hal berharga yang terakhir dimiliki dan alangkah indahnya bila satu-satunya nama yang kita sebut kala itu ialah Nama-Nya.

**

NB: Tulisan ini tidaklah bermaksud “lancang” mendahului diri yang tidaklah sesalih orang-orang yang lebih pantas untuk menyebut Nama-Nya. Hanya pengingat untuk diri sendiri yang masih banyak lupa. Diri ini tidak tercetak untuk tetap dalam taat, tetapi usaha yang akan membuktikannya. Ketaatan adalah proses dan perjuangan bukan pengakuan dan kata-kata. Diri ini pun masih banyak belum baiknya, banyak kurangnya. Kita adalah makhluk yang menyerap sesuatu dan bertumbuh melalui perulangan. Saya pun bukan ahli ilmu (hanya mungkin sok tahu) dan masih banyak bodohnya. Bukan perkataan yang penting, sebab kata-kata akan ditahan dengan mulut yang dikunci, tetapi oleh perbuatan tangan dan langkah kaki kita sendiri. Mereka yang kelak bertutur menjadi saksi tentang diri kita di hadapan-Nya dan Dia yang lebih tahu tentang kesaksian mereka yang bersaksi atas kita.

Wallahu A’lam…