Krisis Prancis

01 November 2020

Liberté, égalité, fraternité. Kebebasan, keadilan, persaudaraan. Frasa yang indah bila tiga kata itu digabungkan dan saling mengikat satu sama lain. Namun, sepertinya mengerikan bila kebebasan dipisahkan dan lebih diprioritaskan. Kebebasan adalah hak kita, tetapi hak tersebut dibatasi oleh hak orang lain sehingga tidak ada kebebasan yang bersifat mutlak. Bila mengacu pada frasa tersebut maka tidak bisa kebebasan berdiri secara terpisah dan lebih diutamakan dari dua kata berikutnya, yaitu keadilan dan persaudaraan yang berfungsi untuk mengikatnya. Sangat berbahaya bila kebebasan itu terlalu didewakan tanpa batasan. Kebebasan itu seharusnya adalah kebebasan yang berkeadilan dan dilandasi oleh jalinan rasa persaudaraan sehingga kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang berkesadaran humanis dan bermoral.

Bila Macron menilai Islam tengah mengalami krisis maka mungkin sebenarnya yang mengalami krisis itu adalah Macron dan Prancis dengan membiarkan begitu saja –bahkan mendukung– keberadaan sebuah media satire yang akan merenggut kedamaian di negara itu dan tidak menyadari dengan cepat bahwa mereka tengah berada dalam ancaman keamanan yang mereka ciptakan sendiri dengan membela “sampah” kebebasan berekspresi yang menyakiti hati umat muslim dunia.

Bila terus berlarut tanpa penyelesaian kebencian dan permusuhan akan menjadi krisis bagi Prancis –mengoyak-ngoyak Prancis dari dalam dan mencabik-cabik dari luar, maka kita akan melihat siapa dan apa yang sebenarnya sedang mengalami krisis itu? Prancis – Macron atau Islam? Nilai-nilai Eropa yang tergerus dalam sikap anti Islam atau nilai-nilai Islam yang semakin tumbuh? Mau tidak mau, suka atau tidak suka Eropa harus menerima Islam sebagai bagian dari entitas agama terbesar setelah dunia kekristenan dan berhenti mengaitkan Islam dengan ekstremisme dan terorisme, serta berhenti memprovokasi dengan penghinaan pada atribut Islam, Muslim, Al-Qur’an, dan Nabi Muhammad SAW.

Semoga Macron cepat menyadari dan memperbaiki situasi di negaranya dan mengeluarkan pernyataan yang solutif, begitu juga dengan negara-negara lain dalam melihat Islam. Tentu kita tidak ingin ada konflik luas dengan latar belakang agama yang akan menyulut kobaran api yang besar, yang tidak hanya membakar Prancis dan negara-negara Eropa yang mendukung Islamophobia, tetapi juga dunia.

01 November 2020