Maret 2016

20 October 2020

Hidup adalah siklus yang hanya sekali dilalui oleh manusia, dan setelah siklus ini berakhir, ruh mendapatkan kehidupan barunya di dunia yang berbeda, bukan sebuah dunia fisik yang nyata tapi sebuah dunia antah berantah yang total tak tersentuh oleh pancaindera dan alat teknologi apapun. Kehidupan di dunia dalam ruang lingkup bumi dan semesta adalah sekali jalan, yang bilamana seseorang telah masuk ke dalamnya (dilahirkan) maka manusia tak akan pernah bisa kembali lagi, memulai kembali atau mengulangi kehidupan, tapi terus berjalan sampai kematian fisiknya datang. Fisik (tubuh) yang mati adalah akhir riwayat keberadaan seseorang di dunia ini, setelah itu ia akan melanjutkan kehidupan dalam periode kedua, alam antara dunia manusia dan dunia akherat. Periode alam ini dimulai dari terlepasnya ruh dari raga yang mati untuk selamanya, sampai datangnya hari kiamat, hari yang tidak diragukan akan terjadi, kehancuran total kehidupan. Semua orang baik atheis, maupun beragama, semua bangsa, dan semua budaya mengakui akan adanya kiamat itu, tapi dalam konteks kehancuran total, tidak satu suara, hingga mereka mencari bumi lain, galaksi lain, bintang yang lain sebagai tempat kehidupan baru untuk manusia. Ada atau tidak adanya tempat lain selain bumi, tidak jadi persoalan, bahkan mungkin adalah pencarian yang sia-sia jika ternyata Allah hanya menciptakan satu planet, satu bintang (matahari), dan satu bulan hanya untuk manusia diantara triliunan bintang yang diciptakannya. Besarnya alam semesta bukanlah satu sebab bahwa Allah menciptakan manusia lain di planet lain, kecil sekali kemungkinan bahwa alien itu benar-benar ada. Jika pun ada, kemungkinan itu adalah jin yang sedang bertransformasi (menyamarkan bentuk) untuk bisa dilihat oleh mata manusia. Manusia tidak tinggal sendirian di alam semesta itu memang benar, karena selain manusia, Allah telah menciptakan jin, dan malaikat, jauh sebelum adanya manusia.

Karena hidup yang sekali jalan, dan waktu hidup hanya tak lebih dari setengah abad dalam rata-rata hidup manusia era zaman akhir, maka apakah kita ingin menyiakan perjalanan hidup kita saat ini? menghabiskan separuh usia tanpa melakukan sesuatu yang berarti? mungkin kita merasa hidup kita tidaklah menarik, membosankan dengan kisah yang sama terus menerus setiap hari, dan hanya sebagian kecil yang berubah secara positif, bahkan mungkin tidak ada perubahan sama sekali dalam waktu yang panjang, dan kita mungkin sedang menunggu perubahan itu datang secara ajaib, tiba-tiba dan langsung mengangkat kita ke taraf hidup yang lebih baik. Kita mungkin sedang menunggu ada satu stimulus, kejadian yang tiba-tiba menjadi kesempatan atau peluang sehingga kita bisa mengubah rute hidup ke arah yang lain, tapi apakah kita akan terus menunggu seperti itu? menunggu dan tanpa sadar kita sudah membuang banyak waktu. Usia 30, usia 40, usia 50, dan jangan terkejut tiba-tiba kita sudah berusia 60 tahun.

Apakah salah menunggu? Apakah salah untuk bersabar? Bukankah menunggu itu membosankan dan apa yang membuat hal yang membosankan itu kita pertahankan selain harapan yang menggunung kepada keajaiban nasib hidup. Celakanya jika kita hanya berharap tapi tidak melakukan apapun, menunggu yang tidak pasti dengan terus duduk dan menatap jam yang terus berputar tanpa mengetahui waktu (hari, bulan, dan tahun) apa saat itu. Bukankah kita seperti orang yang tidak tahu apa tujuan hidupnya meskipun itu benar, bergerak ditempat, tak ubahnya jam hanya menunjuk deretan angka dan hari yang berubah dari siang ke malam, dan malam ke siang.

Tunggulah jika itu pantas untuk ditunggu, bergeraklah dan raihlah sesuatu yang berguna jika itu memang pantas untuk didapat. Semua orang mafhum dan pasti tahu hal ini, namun ternyata kata-kata bijak, nasihat, motivasi, memang lebih mudah untuk ditulis, diucap, tapi tidak benar-benar mudah untuk dilakukan, dipraktikkan, dan diwujudkan dalam kehidupan harian dalam semua situasi dan kondisi. Beda antara motivator dan orang biasa hanyalah peristiwa, para motivator sudah mengalami, merasakan, dan menjadi pemenang, tapi orang biasa, ada yang belum mengalami, atau sudah mengalami tapi selalu menjadi pecundang. Kehidupan tidak sesimpel dalam teori, bahkan teori berkelas pun perlu dibuktikan hingga sampai berabad-abad. teori praktisnya adalah praktik itu sendiri untuk membuktikan benar atau tidaknya teori, trial and error. Mencoba, gagal, mencoba, gagal, dan terus mencoba hingga kegagalan terakhir, dan menemui kesuksesannya pertama.

Sebagai manusia muslim, kita diperintahkan untuk mendengar dan mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur’an dan Al-Hadist yang shahih), bukan berpikir, menimbang, dan menyangkal, banyak bertanya dan berkomentar. Karena Al-Quran bukanlah kitab dongeng, sejarah rekaan, dan teori yang tak teruji, begitu pun dengan Hadist yang pastinya tidaklah datang dari teori seorang Nabi yang ummi, melainkan adalah wahyu dan petunjuk yang diberikan kepadanya.

Maka motivasi manakah yang lebih menggerakkan jiwa? Hanya kehidupan dalam bingkai agama yang bisa membuat hidup menjadi lebih hidup, dan jika kita saat ini merasa mati, maka itu pertanda bahwa hati kita sedang diliputi oleh kemiskinan iman. Kekayaan iman di dada adalah sumber dari tercukupinya kebutuhan jiwa dan itulah yang dapat menenangkan kita dalam hidup. Bukanlah keinginan yang dapat memberi kita kepuasan, tapi jika semua kebutuhan kita tercukupi, itu sudah cukup memberi basic kebahagiaan nantinya bilamana disyukuri, keimanan memberi kestabilan antara ruhani dan fisik manusia sehingga jika ada keresahan hidup dan kegalauan nan panjang, itu berarti keimanan kita sedang dalam kondisi yang lemah. Maka apakah kita sedang lemah iman? Hanya diri pribadi dan Allah yang tahu, tapi sebagaimana matahari yang diselipi bulan dan berpengruh pada bumi, maka seperti itulah kita manusia yang telah tertutupi hatinya dari pancaran cahaya-Nya, kita hidup dalam gelap gulita tanpa pelita, dan hanya mendengar satu bisikan dalam pikiran, sesuai keinginan, sehingga bukanlah keberuntungan hidup yang didapat melainkan sebab dan akibat tanpa adanya pertolongan.

Senja hari, memasuki Magrib

(Ditulis 13 Maret 2016)

Source: labfatoni.wordpress.com

20 October 2020