Jembatan Persatuan

23 Januari 2021

Mengapa sulit bagi kita untuk bersatu? Tidakkah kita lihat semboyan pada pita yang dicekram erat sang burung garuda? “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan yang konon menyatukan kita semua dahulu hingga kita tidak lagi lihat pada perbedaan budaya, suku, ras, bahasa, dan agama. Melebur menjadi satu: Indonesia. Bukankah dengan memelihara sikap “perseteruan” dengan sesama anak bangsa berarti kita belum mengamalkan Sila Ketiga: Persatuan Indonesia? Lalu apakah kita akan merasa pantas untuk mewarisi negeri “Pancasila” ini bila kita bukan insan-insan Pancasila yang di dadanya tercetak lima sila sempurna? Masih pantaskah kita menjadi muslim yang menginginkan Surga Allah bila masih merenggangkan shaf dengan sesama muslim dengan alasan perbedaan pandangan? Perbedaan ormas dan ideologi yang masih debatable, masih bisa dirundingkan, diselesaikan dengan duduk bersama tanpa ada kebencian dan permusuhan. Ukhuwah Islamiyah dan persatuan Indonesia adalah sesuatu yang harusnya menjadi kesadaran utama bagi segenap individu yang mencintai agama, bangsa, dan negaranya. Perbedaan bukan halangan untuk bersatu. Justru seribu perbedaan akan menguatkan kita sebagai bangsa dengan diikat oleh satu simpul persamaan, yang telah diakui dan disepakati bersama: Pancasila.

Pesan persatuan selalu didengungkan oleh guru kita yang telah meninggalkan kita: Syekh Ali Jaber (rahimahullah). Persatuan menjadi kunci untuk menyelesaikan berbagai masalah yang diakibatkan oleh perpecahan di mana celah tersebut bisa dimanfaatkan oleh musuh (luar dan dalam) untuk mengadu domba. Menimbulkan riak-riak di lautan, memunculkan badai yang mengombang-ambingkan kapal “Indonesia”. Tanpa tali persaudaraan yang dirajut, kita akan mudah curiga dan menyimpan prasangka pada sesama yang berbeda haluan. Tanpa niat baik, kita akan jatuh pada kesalahan yang sama seperti masa-masa politik kelam lalu. Persatuan tidak berarti anti kritik. Mendukung tidak selalu diam dan mengangguk. Kritik dan saran tetap diperlukan untuk menyehatkan jalannya kekuasaan yang diamanahi rakyat. Keran kebebasan bicara dengan adab tetaplah harus terbuka tanpa diperkecil, difilter, apalagi dimatikan. Jangan ada politisasi hukum. Hukum harus netral dan objektif tanpa terpengaruh oleh kepentingan apapun, kecuali kepentingan penegakkan hukum itu sendiri. Keadilan harus menjadi tujuan. Keadilan yang proporsionalitas, tidak kaku, dan tidak linier.

Persatuan adalah salah satu modal dasar untuk mengatasi masalah. Ingatkah kita dengan peribahasa yang pernah kita baca di bangku sekolah: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Ancaman keruntuhan kita sebagai bangsa besar atau hilangnya peran kita sebagai negara yang pernah memberikan konsepsi pada dunia bisa terjadi bila kita tidak aware, tidak hati-hati, tidak peka pada isu-isu di dalam negeri yang mengarah pada perpecahan. Sudah sepatutnya keributan masalah yang tidak diperlukan untuk dihilangkan. Fokus pada masalah yang utama dan fundamental. Sebab dunia tengah mengalami perubahan. Menuntut kinerja optimal agar kita tidak tertinggal dan bisa meraih peluang untuk memainkan bidak dalam percaturan dunia. Banyak sudah orang-orang yang mengemuka dan menyampaikan ide-idenya untuk membawa Indonesia menjadi negara yang seharusnya dengan segala potensinya. Tinggal bagaimana Pemerintah memberi ruang pada mereka agar ide-ide itu bisa diimplementasikan. Semua ini perlu political will Pemerintah untuk berpihak pada kepentingan nasional. Menomorsatukan pada kemaslahatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, partai, dan golongan.

Jembatan persatuan adalah infrastruktur paling penting untuk kita bangun sebagai kekuatan kita sebagai bangsa yang berbhineka tunggal ika…

NB:

Tulisan ini hanyalah opini pribadi, hanya suara keresahan yang diuntai lewat tulisan. Menyadari diri bukan pakar, hanya rakyat akar rumput yang kadang merasa “terusik” dengan remah-remah yang sering banyaknya muncul di beranda. Kaya permasalahan memang membuat kita bisa lebih banyak belajar karena memiliki banyak referensi, tetapi bila masalahnya sendiri tidak menambah apa-apa, hanya buih keriuhan, itu-itu saja, berputar-putar, masalah yang tidak mendasar, maka apa yang bisa dipelajari? Tidak ada. Kita hanya dibuat sibuk dengan sesuatu yang seharusnya sudah selesai, tetapi seperti sengaja dipelihara agar masalah utama yang sebenarnya tidak kita sentuh dan selesaikan.

Wallahu A’lam..