Memoar 65

26 September 2020

Zaman terus mengulang polanya
tapi apa yang ditorehkan
baik buruknya dulu kala
itu hantu nyata di kehidupan kita

Siapa kamu, aku, dan kita
tidaklah ditulis oleh pena
hingga zaman akan terus mengenang
layaknya buku sejarah di perpustakaan

Siapa kamu, aku, dan kita
ditulis oleh mata dan telinga
serta hati setiap orang di dekat kita
menjadi sejarah sepenuh halaman memori
di ruang pustaka hati

Waktu tak bisa kembali sekali lagi
memperbaiki satu saja huruf yang salah
Tak bisa mengubah sejarah yang terlanjur
ditulis berdarah-darah

Percayalah akan kenyataan
bukan kata yang melahirkan rasa
bukan pikiran yang menghasut hati untuk percaya
tapi benar hantu itu nyata
meski hanya sekelebat bayangan
yang tertangkap mata kemudian hilang

**

Waktu akan menjadi bukti, “hantu” itu ada atau hanya sekedar bayangan yang hanya menghantui rasa dan menghalukan pikiran. Apakah “hantu” itu berusaha mewujudkan diri untuk melanjutkan revolusi yang terhenti? Atau hanya berupa cocokologi bagi mereka yang menggunakannya untuk memelihara luka lama untuk sebuah eksistensi kelompok.

Jika ditanya apakah saya percaya atau tidak? Ideologi tidak pernah mati, bisa bangkit kapan saja bila situasi memungkinkan itu terjadi. Jadi apakah “hantu” itu ada atau tidak? Setiap kenangan bisa hadir kapan saja bila rasa mengkhendaki. Namun, selama pikiran tetap “sadar”, kita akan menjalani waktu saat ini dengan harapan akan masa depan dengan kehati-hatian masa lalu.

Kebangkitan itu potensi, jangan abai, setiap celah bisa dipakai. Jangan anggap dusta setiap kata yang mengingatkan: akan musuh terbesar ideologi kita. Namun, tetaplah rasionalitas tanpa berlebihan. Tak ada dosa warisan. Jangan hakimi cucu dan anak akan perbuatan buyut, dan orang tuanya. Mereka tetaplah memiliki hak sama untuk hidup seperti yang lainnya. Jangan ada luka baru hanya untuk luka lama.

Dendam rasa harus dipudarkan dengan memaafkan kesalahan pribadi, tetapi tidak berarti meniadakan histori akan peristiwa kelam itu. Memaafkan tidak berarti menghilangkan hukuman yang sepantasnya. Melepaskan tidak berarti mengabaikan. Terkesan abai: tidak berarti tidak peduli. Terkadang kita perlu space, ruang baru, sebagai jeda, sebelum melanjutkan kembali setelah koma.

Apakah mereka yang terkesan “ditakuti” itu telah mengambil ruang untuk menyembunyikan diri sebelum muncul kembali? Apakah mereka sedang menyusun upaya untuk memulihkan diri yang terkoyak dengan “pakaian baru” dan merebut kendali hati publik untuk membersihkan dosa-dosanya dan melimpahkannya pada musuh-musuhnya? Tentu mereka tidak akan menjadi seperti mereka yang dulu lagi, mereka mengikuti zaman yang telah berubah. Namun, akar mereka masih sama. Nyata atau tidak, waktu yang akan menguak tabirnya. Kita (terutama saya) hanya bisa menerka dengan menggambarkannya di atas butiran pasir. Ombak akan datang menyapunya. Terkaan kita bisa salah, tapi ombak itu mungkin saja akan tetap datang, tak peduli, meski hanya buihnya.

Wallahu A'lam

26 September 2020