Memory Library

12 June 2020

Memory adalah sebuah library. Kenangan bukanlah sebuah gangguan. Luka dari memory adalah trauma. Trauma adalah cedera yang harus diobati. Mengobatinya adalah dengan menghadapinya, menyadarinya, dan menerimanya. Sensitivitas terhadap suatu peristiwa hendaknya diarahkan pada fungsi pembelajaran untuk membuka pikiran, bukan sebatas hanya sebagai luka, bukan sebatas trauma. Bila segala sesuatu yang melukai kemudian disikapi sebagai trauma saja maka tidak akan ada pembelajaran dari peristiwa duka. Padahal Tuhan menekukmu untuk memberimu daya agar bisa melompat lebih tinggi. Terkadang Tuhan juga ‘melukaimu’ untuk menyadarkanmu.

Tidak ada hubungan antara lalu dan kini selain sebagai sebuah timeline, garis waktu yang harus dilalui. Hari ini ada karena sebab kemarin. Namun, hari ini adalah hari ini, bukan hari kemarin, peristiwanya pun berbeda, tidak bisa dihubungkan karena sudah bercampur dengan berbagai peristiwa lain yang bukan hanya masa lalumu saja dalam satu garis. Akar dari masa lalumu telah bertumbuh menjadi banyak cabang. Masa lalu tidak bisa lagi diotak atik, diganggu gugat, dipermasalahkan, kecuali diingatkan akan pelajarannya yang berharga. Masa lalu adalah sejarah berharga untuk masa kini dan masa depan. Berterima kasihlah dengan semua yang telah terjadi di hidupmu karena berkat semua itu kamu mendapatkan pelajaran. Adapun hal buruk yang kita rasakan penyebabnya adalah karena kita yang memilihnya demikian. Ketidakberdayaan bukanlah karena kekurangan, melainkan pilihan kita. Pilihan untuk menjadi lemah. Pilihan untuk menjadi kurang. Pilihan untuk menderita. Pilihan untuk susah. Pilihan untuk berkeluh kesah.

Kita makhluk terbatas, tapi punya banyak pilihan (sesuai dengan porsi yang diberikan). Kita makhluk terbatas namun punya sumber daya kesabaran tanpa batas. Batasnya hanyalah seberapa tahan kita untuk tidak menyerah. Daya tahan tersebut hasil dari latihan kesabaran. Tanpa sebuah ujian, kita tidak akan pernah belajar dan berlatih. Tidak akan ada pemicu agar kita memiliki keinginan dan tujuan. Perjalanan hidup yang landai adalah musibah besar. Perjalanan yang terjal adalah keberuntungan. Manusia yang memiliki kemampuan besar dipersiapkan untuk menghadapi peristiwa besar di hidupnya. Tanggung jawabnya pun besar. Output (manfaat)-nya pun harus besar sesuai dengan inputnya agar sirkulasi proses dalam dirinya berjalan lancar.

Bersyukurlah kita yang biasa-biasa saja. Kemampuan yang sedang-sedang saja karena kita hanya dipersiapkan untuk menghadapi sesuatu yang sesuai dengan kemampuan kita secara normal. Bukan sesuatu yang luar biasa, yang dibaliknya ada sesuatu yang tidak kuasa kita menghadapinya bila bukan kita orang yang dipilih untuk menghadapinya.

Jadikan semua yang lalu sebagai sebuah library.. ambillah itu semua sebagai manfaat, namun jangan menjadikannya tanpa nilai guna, yang hanya menjebak pikiran dan perasaan pada pola lingkaran tak berujung. Masa lalu adalah batu bata dari pondasi tempat berdiri hari ini maka bangkitlah dan berdirilah di atasnya. Masa lalu adalah jembatan, tanpanya kita akan hilang tanpa jati diri. Jangan pernah menyalahkan sesuatu yang sebenarnya itu bisa menjadi kekuatan untuk merubuhkan tantangan di hari depan. Masa lalu mengajarkan kebijaksanaan untuk menyadarkan tentang arti realita. Kadang di dalam masa lalu ada jawaban atas pertanyaan yang tidak bisa dijawab hari ini sisanya jawaban itu ada di masa depan.

Wallahu A'lam…

12 June 2020