Mengisi Setiap Celah

16 June 2020

Kritikan sangat penting dan diperlukan untuk jalannya kekuasaan agar kekuasaan itu tetap berada di track yang benar, tidak melenceng dari amanat yang sudah diberikan. Terbukti dengan adanya kritikan yang besar bisa menjegal suatu upaya yang dirasa merugikan bangsa dan negara, bisa mengoreksi kebijakan yang kurang tepat.

Masalahnya selalu ada upaya untuk membungkam suara-suara kritikan itu dengan fitnah, tuduhan, melakukan pembusukan karakter. Keji sekali. Padahal kritikan adalah hal lumrah. Kritikan bukan penghinaan. Apa kita tidak bisa membedakan mana kritikan dan penghinaan? Mereka bisa bicara apa saja untuk menanggapi kritikan, bukannya menerima sebagai masukan justru dihadang dan dilawan. Melakukan pembenaran penguasa bukan mencari jalan solusi untuk permasalahan bangsa. Mungkinkah mereka ikut menikmati suasana ketidakberesan saat ini?

Suasana politik dan penegakkan hukum kita sungguh membuat miris, dan hal ini bisa membuat orang-orang yang sudah jenuh terutama dengan suasana politik yang memecah persaudaraan kita, memilih untuk diam dan berhenti bicara politik karena hal tersebut dianggap memicu perseteruan. Begitu pula dengan kritikan, orang malas untuk mengkritik bahkan takut melakukannya hanya karena mendapatkan “gonggongan”. Terkadang yang membuat heran, apa yang mereka lakukan menciderai akal kewarasan, mengusik rasionalitas, dan melukai rasa kemanusiaan. Apa zaman sudah sedemikian bobroknya?

Mungkin juga tidak. Mereka mungkin hanya sisa-sisa yang masih diberi ruang. Ruang mereka mulai menyempit dan suara mereka makin keras. Tidak sungkan lagi untuk membela sesuatu yang “salah”. Namun, masyarakat kita kian bertumbuh, semakin tahu dengan apa yang terjadi. Media informasi kini menjadi alat untuk menyebarkan “terang” di sudut-sudut gelap.

Gerakan perubahan mulai dirasakan menggeliat di seluruh dunia, perlahan demi perlahan, nilai-nilai lama mulai diganggu dengan kesadaran akan nilai-nilai yang seharusnya dipakai untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. 2020 hanyalah awal, momen untuk kebangkitan yang “dipaksa” oleh keadaan. Mempercepat apa yang seharusnya mungkin akan terjadi 3 - 5 tahun ke depan, namun itu mulai dihadirkan pada saat ini, melalui shortcut pandemi. Siapa yang tidak bisa beradaptasi akan tumbang, siapa yang bergerak dinamis mengikuti lekuk keadaan, dan gesit bermanuver, dia yang akan bertahan dan merebut peluang. Keadaan yang akan “membuka” segala macam kebobrokan.

Selalu ada campur tangan Allah yang menjawab doa-doa kecil kita meski harus melalui jalan yang cukup tajam, seperti silet, yang memberi luka, mengeluarkan darah, kemudian Dia menyembuhkannya…

Apa yang dulu kita anggap “luar biasa” kini terasa “biasa” saja. Mungkin kelak beberapa tahun lagi, apa yang kita anggap “fiksi” bisa menjadi “kenyataan”. Waktu yang akan mengemasnya dan menghadirkannya melalui kita dan generasi saat ini sebagai jembatan. Penyedia karpet merah untuk jalannya peradaban.

Harapan itu selalu ada, namun jangan lupa, perjalanan kita masih panjang. Butuh waktu lagi untuk sampai ke tujuan. Apa kita hanya diam saja menunggu seorang yang akan sanggup menegakkan benang yang basah di bumi yang mulai kering dari rasa keadilan ini?

Kita punya peran masing-masing sesuai dengan kemampuan. Punya porsi untuk turut serta mem-build hari depan. Allah mendistribusikan setiap kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda pada masing-masing orang agar bisa saling mengisi setiap celah.

16 June 2020