Mengurung Syahwat dengan Syariat

05 March 2019

Manusia tidak mengenal kata “final” tentang dirinya. Manusia senantiasa bergelut dengan kebenaran dan keburukan. Hal yang sudah dianggap baik dan benar dicoba untuk dipertahankan. Mempertahankannya agar tidak berubah membutuhkan pergulatan karena akan selalu ada pembaharuan. Entah pembaharuan itu akan membuatnya menjadi lebih baik dengan memiliki pemahaman nilai-nilai yang lebih dalam, atau sebaliknya membuatnya berpindah jalan.

Manusia pun bergelut dalam perkara buruk, apakah itu akan segera disingkirkan dari jalan hidupnya, atau coba tetap dipertahankan karena belum siap mengorbankannya. Baik dan buruk, manusia hidup di antaranya. Jika Tuhan mengkehendaki, dan diri menjalani untuk siap menyembelih dirinya (hawa nafsunya) hingga liarnya menjadi menjinak. Maka, ia akan tetap dalam keadaan baik, menjauhi apapun telah Tuhan suruh untuk tidak dilakukan. Atau sedikit saja, dengan harapan Tuhan mengampuni dengan sifat Kemahaaaampunanya yang luas, karena tahu bahwa maaf-Nya lebih dulu diberi-Nya daripada murka-Nya, mencari celah untuk berbuat salah. Dosa kecil. Lagi dan lagi, hingga bertumpuk banyak. Lalu apa bedanya?

Tuhan sengaja memberi kue pemanis kecil yang nampak lezat di pelupuk mata. Terhidang tak jauh dari jangkauan tangan kita. Bila kita silap sedikit saja, mengambilnya, sementara Tuhan sudah melarangnya, maka Iman kita ternyata hanya seremah roti. Padahal jika sedikit saja mau bersabar. Tak jauh di ujung meja itu, ada makanan yang jauh lebih enak, lebih gurih, lebih nikmat. Makanan yang belum pernah kita lihat dan rasakan sebelumnya. Tuhan tutupi makanan itu dengan tudung saji, sebagai hadiah terbaiknya. Namun, nampaknya kita lebih suka menikmati sesuatu meski menderita pada akhirnya. Kita dicipta dengan ketergesaan sifat, keterburu-buruan kehendak. Diperparah dengan keinginan (syahwat) apabila terus menerus diperturuti, maka nafsu buruk akan semakin besar dan besar hingga melebihi tuannya sendiri. Syahwat seperti api, yang mulanya hanya dari percikan kemudian menjadi besar hingga membakar membinasakan pemiliknya.

Tuhan mengurung syahwat kita dengan syariat. Mengurungnya untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan memperturutkannya tanpa batasan. Siapa yang melempar syariat-Nya. Tidak ada jaminan keselamatan baginya, meski ia ada di jalan-Nya. Namun akhirnya, karena dosa-dos kita, neraka menjadi tempat akhirnya. Meski tidak kekal, jika Tuhan masih mau menerima iman kita yang mungkin hanya seukuran atom.

Allah menyebut kita muslim, orang yang berserah diri pada-Nya, karena memang hanya itu jalan satu-satunya keselamatan, yaitu berserah diri pada Tuhan. Keselamatan itu hanya Dia yang dapat memberikannya dan usaha kita hanyalah menyerahkan diri dengan mengikuti petunjuk-Nya dalam hal larangan dan perintah.

Wallahu ‘alamu bish-shawab

05 March 2019