Mid November 2020

21 November 2020

Semua akan baik-baik saja jika kita mampu bersikap proporsional dan tetap berjalan dalam koridor yang benar. Segala keriuhan yang terjadi hanya akibat dari kesalahan memahami masalah. Buah dari persepsi yang salah menafsirkan sinyal. Terlalu berlebihan reaksi yang diberikan baik yang pro maupun yang kontra. Kita akan baik-baik saja bila tetap rasional tak tersulut oleh emosional sesaat yang disulut oleh keadaan.

Tidak ada kebenaran yang mutlak pada satu pihak dalam semua situasi, kondisi, dan substansi maka dikatakan hanya Nabi dan Rasul saja yang segala perkataan dan perbuatannya wajib untuk diikuti dalam segala hal oleh setiap manusia yang mengaku beriman kepada Allah karena apa yang disampaikannya adalah wahyu dari Allah bukan dari pendapatnya atau dari hawa nafsunya. Sementara kepada selain itu, salah dan benarnya bisa relatif tergantung pada siapa yang mendengar dan melihatnya. Bukankah setiap dari kita memiliki ukurannya masing-masing? Ukuran pemahaman, pengetahuan, ilmu, pengalaman, kepentingan, tujuan, selera, perasaan, pola pikir, dan lain sebagainya, sehingga dari ukuran yang berbeda-beda akan menimbulkan persepsi yang berbeda-beda terhadap apa yang disampaikan oleh seseorang walaupun yang disampaikannya adalah kebenaran.

Ikuti apa yang kita pahami sebagaimana kita mengamalkan sesuatu dengan ilmu.

Kita mungkin harus belajar untuk tidak melakukan dikotomi, melihat sesuatu bak papan catur, hanya ada hitam dan putih. Kita harus adil melihat dan menilai masalah. Keadilan memandang masalah memang tidak mudah. Bagi kita yang tidak kompeten dan hanya mengikuti arus opini publik, atau hanya melihat dan mendengar saja di satu momen akan rentan untuk jatuh dalam pusara kesalahan. Dibikin bingung dengan apa yang ada di permukaan. Mudah terhasut dan emosi dengan provokasi keadaan. Sebenarnya keadaan tidak memprovokasi, tetapi kita terprovokasi oleh persepsi kita sendiri terhadap apa yang sedang kita saksikan.

**

Lembut kerasnya perjuangan disesuaikan dengan medannya. Jika medannya keras untuk melaluinya memang perlu keras, tetapi kerasnya perjuangan dengan tetap berada di track yang benar agar tidak ada celah yang menguntungkan bagi musuh untuk menyulitkan langkah perjuangan.

**

Musuh itu bisa siapa saja termasuk diri kita sendiri..

Wallahu A'lam

21 November 2020