Persatuan

14 Mei 2021

Menghentikan pendudukan Zionis Israel di wilayah-wilayah Palestina yang diduduki semenjak 1967 lebih memungkinkan untuk solusi damai ketimbang tidak sama sekali walaupun itu bukan solusi permanen (yang tidak diinginkan keduanya), dan itu pun ternyata tidak digubris oleh Zionis Israel apalagi jika meminta lebih dengan mengembalikan wilayah seperti pada tahun 1947, atau meminta Zionis Israel membubarkan “negara Israel”, itu lebih mustahil lagi (kecuali dengan pemaksaan yang berarti Zionis Israel telah kalah mempertahankan eksistensinya).

Zionis Israel terus memaksakan kehendaknya, dan terus merasa lebih superior ketimbang Palestina, lebih-lebih pihak Palestina pun tidak satu padu dalam menyalakan api perjuangan mereka. Perjuangan akan lebih sulit bila para pejuang tidak dalam satu komando. Mengapa mereka berpecah? Antara faksi Hamas dan Fatah?


Update 17 Mei 2021:

Saya mendapatkan informasi dari LIVE Channel Adi Hidayat Official dengan narasumber Muhammad Husein Gaza, seorang aktivis kemanusiaan Indonesia yang berada di Jalur Gaza:

Rupa-rupanya perpecahan hanya pada arah perjuangan politik antara Hamas dan Fatah. Namun, perjuangan sayap militer yang dimiliki keduanya, yaitu Brigade Izzuddin al-Qassam (sayap militer Hamas) dan Brigade Syuhada Al-Aqsha (sayap militer Fatah) tetaplah dalam satu arah perjuangan yang sama. Syukurlah. Hal yang perlu diketahui bahwa di Palestina tidak hanya ada dua faksi, melainkan banyak sekali faksi dan juga sayap militernya. Meski demikian, tentunya akan lebih baik jika masing-masing faksi bisa menyatukan arah politiknya.


Bangsa Indonesia pun tidak akan pernah keluar dari penjajahan jika para pemimpin pejuangnya berpecah di tengah-tengah perjuangan. Walaupun betapa sengitnya perbedaan paham dan ideologi antara tokoh-tokoh pejuang, tetapi mereka memilih untuk bersatu dan “mengalah” dari ego masing-masing agar tetap dalam satu garis perjuangan.

Berjuang dengan satu komando pun tidak mudah untuk Indonesia melawan penjajahan, apalagi jika sampai harus berpecah belah, itu akan menjadi jalan yang terjal dan panjang. Palestina hari ini adalah buah dari tidak solidnya perjuangan Palestina dan tidak solidnya Dunia Arab dan Dunia Islam dalam memandang permasalahan Palestina. Persatuan adalah kunci untuk membebaskan Palestina. Bila Dunia Islam bersatu maka akan menjadi daya tekan kuat untuk Zionis Israel dan pihak-pihak yang berada di belakangnya (sponsor dan pembelanya).

Umat selama ini sudah membantu Palestina dengan doa, donasi, dan aksi solidaritas mendukung Palestina, tetapi ada satu hal yang belum dilakukan atau mungkin sudah pernah tetapi gagal, yaitu menggalang persatuan dengan mengajak negara-negara muslim untuk bersatu, menyatukan suara, pandangan, dan aksi mereka untuk membebaskan Palestina. Harus ada satu negara muslim yang besar dan berpengaruh yang memulai semua itu agar negara-negara muslim lain mau mendengar seruannya.

Ukhuwah Islamiyah adalah jalan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi di Dunia Islam..

Apabila persatuan itu sudah terwujud maka hanya masalah waktu dan tingkat kualitas perjuangan, bukan hanya akan menghentikan aneksasi dan mengembalikan wilayah Palestina sesuai resolusi yang dikeluarkan tahun 1967 atau 1947, tetapi akan lebih dari itu, yaitu bubarnya Zionis Israel.

Wallahu A'lam..