September 2020

14 September 2020

Realita tentu tak seindah apa yang tergambar dalam kepala. Dunia tidak dibangun berdasarkan keindahan yang dirupakan dalam benak manusia. Dunia hanyalah taman hidup sementara. Tidak didesain untuk kekal, tanpa cacat, atau tetap tanpa adanya perubahan. Di sini kita hanya bermain dengan aturan sunnatullah. Hukum Allah. Hukum yang mengikat alam dan isinya sehingga menimbulkan keselarasan dan keseimbangan. Sebuah keteraturan yang tidak mungkin ada karena faktor kebetulan.

Bermain dalam taman dunia perlu pembatasan yang bernama kesabaran dan kesadaran. Kesabaran membuat kita bisa menahan diri untuk tidak berbuat lebih atau kurang dari kapasitas diri. Kesadaran membuat kita mawas diri untuk tidak lengah dari ancaman sekalipun itu berupa nikmat. Ancaman dunia tidak selalu terlihat menakutkan. Pada dasarnya hal apa pun yang berpotensi membuat diri lupa untuk taat pada hukum-Nya, itu adalah ancaman. Selama hal tersebut tidak membuat diri lupa malah sebaliknya semakin taat dan bersyukur maka itu adalah rahmat, pertolongan Allah, dan bukti kasih sayangnya pada orang-orang yang bertakwa. Syukur adalah nikmat Allah pada hati orang-orang yang merdeka, tidak lagi bersedih atas musibah yang datang kepadanya melainkan bersedih bila musibah itu datang dari dirinya sendiri.

Syukur tidak bisa dilakukan tanpa melewati tangga kesabaran. Orang yang telah mencapai puncak kesabaran akan mendapati rasa syukur di hatinya. Tidak lagi merasakan beban ketaatan, tetapi berubah menjadi kebutuhan, sesuatu yang ingin dilakukan tanpa ada alasan lain. Bukan untuk kemaslahatan dirinya, tetapi karena Allah semata. Karena tahu siapa dirinya dan siapa Dia. Segala konsekuensi dari penyerahan dirinya akan diterima sepenuhnya secara sadar akal dan sadar hati. Menimbulkan keikhlasan. Seperti tidak ada alasan bagi pecinta untuk mencintai kekasihnya selain karena kekasihnya yang membuatnya mencintainya.

Nikmat dunia itu sedikit, tetapi terus berulang-ulang. Tidak tetap, tidak abadi, dan tidak berlangsung lama. Mengapa? Karena tidak ada ujian dan cobaan yang kekal dalam satu soal. Nikmat dunia akan terasa nikmatnya bila ukurannya relatif lebih kecil dari semua hal yang dirasanya, bahkan sebenarnya segala apa saja akan menjadi nikmat bila kita menyadari bahwa apa yang kita rasakan adalah nikmat dari-Nya meski itu berupa luka. Tak ada yang patut disedihkan bila kesedihan itu datang dari apa yang menjadi ketentuan-Nya. Kesedihan yang menjadi kesedihannya justru datang dari apa yang menjadi perbuatannya sendiri yang menyalahi ketentuan-Nya, melanggar hukum-Nya, menyadari kelemahannya, menyadari segala dosa-dosanya.

Bosan adalah sifat natural kita, itu adalah limit, batasan, yang datang dari dalam diri kita sehingga perlu disiasati dengan tidak berlebihan dalam melakukan dan menilai sesuatu, kecuali kita menjadikannya sebagai standar minimal. Rasa bisa berubah seiring waktu bila terjadi perubahan pada hal-hal dasar yang membentuk rasa itu. Ketika pikiran dan hati tidak lagi sinkron, ada sesuatu yang telah berubah sehingga menyebabkan pergeseran titik temu.

Kita akan menjadi sangat optimal hanya dalam titik kurva tertentu di mana semua hal yang menjadi daya kita saling bertemu dan bersinggungan. Hal ini menyebabkan setiap orang bisa menjadi berbeda pada beberapa waktu dan ruang tertentu. Bukan hanya manusia, tetapi juga alam ini, mengalami perubahan secara simultan. Namun, alam ini memiliki daya lentingnya, ia bisa memperbaiki dirnya sendiri dengan mengikuti hukum-Nya. Alam tidak punya pilihan sebagaimana manusia bisa memilih. Andai manusia punya ketaatan yang totalitas seperti alam, ia akan bisa melebihi alam dan menjadikan alam sebagai sumber dayanya untuk menebarkan rahmat bagi makhluk lainnya, sebab manusia telah diberi mandat dari Allah sebagai wakil-Nya di bumi. Diberi kuasa untuk memimpin dan mengelola, bukan sebaliknya, menjadi sebab kehancuran dan kerusakan alam dan makhluk hidup di dalamnya.

Saat ini keserakahanlah yang berkuasa, merusak dunia, memuaskan syahwatnya, manusia hidup dalam kedzalimannya, termasuk kita yang tidak mampu menginjak rem karena lemahnya kita di hadapan keinginan kita sendiri yang begitu besar dan kuat hingga Tuhan tak lagi ditakuti, hingga sumpah atas nama-Nya pun dikhianati. Jabatan tidak lagi membawa pada kemaslahatan bangsa, melainkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok, memuluskan langkah menguasai sumber daya yang berharga. Menjualnya pada asing dan kebanyakan dari kita hanya mendapatkan ampasnya. Remah-remah roti yang dimakan tuannya.

Tidak ada yang bisa dilakukan oleh kita yang hanya menjadi kaum akar rumput, kecuali bertahan dan saling menguatkan, membuat jaring-jaring, menjadi pijakan bagi harapan baru yang akan tiba. Sudah janji Tuhan, kelapangan datang setelah kesempitan. Kesempitan adalah ruang untuk menghimpun kekuatan, menjadi daya ledak perubahan, yang akan dirasakan meluas, cepat atau perlahan.

Jadi, tetaplah bersyukur, karena sebesar apapun hal yang ada dan dirasakan di permukaan, itu masih relatif kecil dari apa yang sebenarnya terjadi dan berlangsung saat ini di bawah permukaan, di mana Allah tutupi semua itu dari kebanyakan pengetahuan manusia, termasuk pengetahuan saya sendiri yang masih amat terbatas. Tulisan ini hanya asumsi, bukan kebenaran yang mutlak, hanya ingin mengajak diri untuk tidak melupakan Nama yang memberi kita hidup. Namun, sebaik-baik nasihat ditujukkan pada diri sendiri, pada siapa yang telah menuliskannya.

Wallahu A’lam.

NB:

Doa untuk kesembuhan atas luka tusuk (pada minggu sore, 13 September 2020 sekitar pukul 17:15) yang diderita oleh guru kita semua yang tak hentinya mengajak untuk merekatkan ukhuwah baik kepada sesama umat Islam maupun kepada sesama anak bangsa, dan membumikan Al-Qur’an: Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber (Syekh Ali Jaber), semoga Allah menjaganya dari kejahatan makhluk yang ingin mencelakainya, dan mengasihi kita semua dengan memperpanjang usianya agar terus hadir di tengah-tengah umat Islam yang butuh lebih banyak lagi sosok-sosok seperti beliau, menjadi oase di padang hidup yang gersang dengan tausiyahnya yang menyejukkan, dengan akhlaknya yang mendatangkan kecintaan bagi siapa pun yang melihatnya. Aamiin.

14 September 2020