Tidak Ada yang Baru

8 Mei 2020

Keberadaan kita hanya duplikasi – kombinasi dari yang pernah ada sebelum kita. Pemikiran kita hanya gema yang berulang dari manusia-manusia sebelumnya. Kemampuan kita hanya berasal dari perulangan yang bernama proses belajar. Tidak ada yang baru. Dunia yang terus berubah dan berkembang. Semakin kompleks masalah yang dihadapi. Kita dituntut untuk menjadi problem solver, minimal menjadi benang untuk menyulam bunyi yang belum terpintal sempurna.

Kemandirian adalah kunci diri untuk kebebasan. Kita tidak bisa bebas bila tidak mandiri. Kita tidak bisa mandiri bila tidak punya kemampuan. Kita tidak akan punya kemampuan bila tidak belajar dan mempraktikkan apa yang kita pelajari. Praktik yang terbaik adalah dengan “menjadi”. Kita tidak akan “menjadi” bila tidak merasa “menjadi” dan ingin “menjadi”. “Menjadi” butuh keberanian.

Rasa keterlepasan kadang hanya untuk mereka yang memosisikan diri sebagai “guru kehidupan” yang telah matang atau sudah berada dalam puncak kehidupan, atau mereka yang telah tercerahkan, dan tentunya sudah merasa cukup dengan “kekayaan hidup” yang mereka dapatkan. Dari mereka, kita belajar. Kita yang masih “hijau” perlu matang, sebelum “melepas” kita harus “memiliki” agar geliat yang kita lakukan dalam roda waktu memiliki “jejak"nya.

Agar “menjadi” kita harus mencari diri yang “hilang” untuk melengkapi susunan puzzle dalam bingkai diri yang kurang…

Kita semua di dunia ini, sedang bertumbuh, berproses, berubah, mengikuti lekuk keadaan yang dilekuk waktu yang memuai, dan sedang dihantui “waktu lalu dan datang” yang membuat kita terus menggeliat di dalam waktu-waktu yang kita miliki saat ini.

Jangan “berhenti”. Jangan merasa telah tua, meski usia tidak lagi muda. Waktu itu relatif. Merasa terus “muda” lah, dari sisi pengalaman dan pengetahuan, serta amal. Kita mungkin tidak akan pernah “menjadi” sesuatu yang kita inginkan. Tidak bisa mencapai satu titik yang kita tuju. Tidak bisa mendapatkan sesuatu yang terlepas. Namun, “dirimu” lebih dari semua itu. Dunia hanya tempat, dan apa yang ada di dalamnya hanya hiasan-hiasannya. Maka, apakah kita lebih disibukkan hati dengannya, bukan pemilik dunia itu: Allah SWT.

Tidak semua nikmat perlu kita rengkuh. Tidak semua hidangan perlu kita habiskan. Tidak semua hal yang ada di dunia ini perlu kita cicipi dan kita miliki. Ambilah seperlunya. Bersabarlah terhadap kesempitan dan kelapangan. Jaga perut di antara lapar dan kenyang. Hal yang terbaik untuk kita ada di dalam pertengahan. Mengingat 2 hal yang berbeda, antara nikmat dan siksa. Menjaga hal yang baik adalah perjuangan, sebagaimana perjuangan untuk memperbaiki diri.

NB:

Kita semua belajar dari titik nol. Kita berproses dari ketiadaan. Pada saat kita kembali kepada kesadaran, tiada lagi keburukan, yang ada hanyalah kekurangan, dan merasakan diri “berdosa” pada saat diri terbius dalam ketidak sadaran.

Manusia yang hebat, mereka yang mempraktikkan nilai-nilai hidupnya. Antara ucap dan perbuatannya berada dalam satu garis lurus. Mereka yang melengkapi ketidak tahuannya dengan mencari tahu. Mereka yang meletakkan kedua kakinya di atas pondasi yang mereka bangun dengan cara berkolaborasi dengan yang lain. Pada dasarnya tidak ada manusia yang benar-benar kuat dan hebat dengan menjadi seorang diri. Seorang Leader pun tak berarti tanpa legiun yang kuat. Legiun yang kuat dihasilkan dari kerja sama yang solid.

Kesabaran itu ada dua: kesabaaran “merasakan” dan kesabaran “menjalankan”. Meski dua-duanya sama-sama merasakan, tapi yang satu tidak berdaya, yang satu berusaha.

Tulisan ini hanya sebatas jejak yang mengikuti jejak-jejak sebelumnya…