Akhir Oktober

25 October 2020

Hal yang baik tidak akan bertahan di dalam wadah yang tidak kompatibel dengannya. Wadah itu akan mengkorosinya sehingga menjadi kurang baik. Hal pertama untuk memperbaiki isi adalah menata tempatnya. Bila dibawa ke ranah manusia maka kita perlu memperbaiki diri di mulai dari memperbaiki apa yang kita masukkan ke dalam perut, ke dalam pikiran melalui pancaindera, dan memperbaiki lelaku. Dalam Islam kita mengenal puasa yang berfungsi untuk membersihkan diri dan jiwa. Puasa tentu tak sekedar mengosongkan perut dari makan dan minum, tetapi lebih dari itu adalah mengosongkan hati dan pikiran dari sesuatu yang tidak baik sekaligus menjaga perbuatan termasuk lisan dan tulisan.

Bila kita tidak mampu di tahap pertama akan sulit meraih isi yang mematangkan kita. Bila lelaku kita kurang baik akan menghalangi kita dari “pencerahan”. Sekalipun datang kepada kita sebuah pemahaman, tetapi pemahaman itu tidak terintegrasi sempurna ke dalam diri kita. Ia hanya hadir dalam pikiran dan ucapan, tetapi tidak benar-benar aplikatif ke dalam perbuatan. Orang yang lemah berada di tepi jurang kemunafikan dan kekufuran oleh sebab kelemahannya sehingga Allah lebih mencintai orang-orang beriman yang kuat dengan kekuatannya baik kebulatan tekad, harta, ilmu, atau fisik tubuhnya. Namun, orang lemah yang mampu keluar dari kelemahannya atau bersabar dengan kelemahannya kemudian mendidik dirinya sendiri untuk menjadi orang yang kuat tentu akan lebih kuat karena perjuangannya menaklukkan diri sendiri yang dikatakan sebagai musuh terbesar dan terkuat setelah musuh di medan perang. Orang-orang yang memiliki kekuatan keyakinan selalu diletakkan dalam barisan terdepan untuk memandu orang-orang yang dibelakangnya. Mereka memiliki jiwa yang membara karena selalu terjaga, menjaga dirinya seperti menjaga benteng yang di dalam benteng itu adalah sang kalbu yang tidak boleh sampai jatuh ke tangan musuh.

Siapa yang mampu mencapai kalbu dan menguasainya maka menanglah ia atasnya. Perlahan bara jiwa itu melemah dan kemudian padam berganti dengan bara yang lain: bara syahwat yang membawa diri untuk bermaksiat. Bila waktunya tiba, saat Dajjal keluar, diri-diri yang tertakluk akan menjadi bagian dari pihak yang membelanya. Mereka telah buta meski punya dua mata. Buta mata hati dari melihat kebenaran. Tersilau dengan keagungan dan kekuatan yang besar, berlimpah ruah rezeki yang diberikan olehnya. Nafsu-nafsu dalam diri mereka bergetar, tergopoh-gopoh datang padanya menghambakan diri seperti menghambanya diri mereka pada sang nafsu yang seolah sudah menjadi Tuhan bagi mereka.

Emosionalitas yang selalu diluapkan menjadi sarananya. Tubuh dan jiwa seolah terpisah. Jiwa yang sadar hilang mengembara sementara tubuhnya dirantai nafsu. Musuh terbesar diri kita adalah apa yang ada dalam diri kita sendiri. Musuh yang mampu membunuh tanpa melukai tubuh. Apa yang dibunuhnya? Jiwa kesadaran kita..

Wallahu A’lam

25 October 2020