Toleransi Beragama Tidak Perlu saling Mengucapkan Selamat

Sebagaimana halnya suatu kalimat yang diucapkan dengan penuh kesadaran mampu membuat seseorang masuk ke dalam suatu agama maka dengan kalimat yang diucapkan pula dengan penuh kesadaran bisa menyebabkan seseorang keluar dari agama tersebut. Sadar atau tidak sadar pada konsekuensi dari ucapannya. Baik hanya di lisan saja atau benar-benar diucapkan dari hati yang dalam.

Mengucapkan selamat tentu harus dengan ketulusan, bukan sekedar ucapan untuk menyenangkan orang yang mendengarkan ucapan tersebut, kecuali untuk menyatakan selamat kepada sesuatu yang bersifat umum. Kalau hanya sebatas di lisan saja maka ucapan tersebut tidak akan menunjukkan kita sebagai orang yang turut merasa senang dengan kegembiraan orang lain. Bukankah ucapan selamat itu harus dengan hati yang turut pula merasa senang atas kegembiraan yang timbul dari adanya suatu keyakinan?

Bila hati kita turut senang dengan kegembiraan orang lain maka seolah kita adalah menjadi bagian dari mereka. Menjadi bagian dari orang-orang yang merayakan kegembiraan tersebut. Turut bersuka cita dengan apa yang mereka yakini dan rayakan. Apakah hal itu salah? Tentu kita tidak ingin mengucapkannya hanya sebatas seremonial dan basa basi. Kita tidak ingin menjadi munafik bagi mereka yang mendengarkan ucapan tersebut keluar dari bibir kita yang tidak dilandasi oleh keyakinan yang sama dengan mereka. Menjadi munafik pula di mata keyakinan sendiri atas perkara lisan yang tidak tegak lurus dengan keyakinannya sendiri.

Memang benar ucapan itu tidak akan membuat kita lemah dalam berkeyakinan. Hanya saja cacat secara lisan dan menyalahi hati yang tidak meyakini atas apa yang diucapkan. Menyatakan selamat tetapi hati tidak turut serta bersama dengan ucapan tersebut. Bila kita peka tentu hal ini mengusik karena setiap ucapan memiliki sebuah konsekuensi. Mengapa? Sebab, hal ini urusan akidah, sebuah kepercayaan, sebuah keyakinan, bukan hanya sebatas sebuah perayaan kegembiraan. Cukuplah sikap yang inklusif itu sebatas pada perbuatan dan ucapan yang umum, tidak masuk ke dalam ranah private yang bernama keyakinan. Kita menghormati mereka dalam berkeyakinan. Kita bertoleransi pada semua orang yang memiliki keyakinan, termasuk pada mereka yang pro dan kontra terhadap perkara ucapan dalam memberikan selamat atas kegembiraan yang mereka rayakan. Kita turut senang pada apa yang mereka rasakan bukan pada apa yang mereka yakini sebab kita memiliki keyakinan yang lain dengan apa yang mereka miliki.

Tidaklah membuat kita menjadi orang yang intoleran hanya karena tidak mengucapkan selamat. Sebab, intoleran bagi saya adalah ketika kita tidak menghormati keyakinan orang lain dengan melakukan pelecehan, penghinaan, gangguan, intimidasi, kekerasan, teror sehingga membuat orang-orang yang berbeda keyakinan dengan kita menjadi terancam dan tidak tenang menjalankan keyakinannya. Termasuk ketika terdapat perbedaan pendapat kita harus menghormatinya sebagai hak asasi manusia yang memiliki hati dan pikiran setelah datang kepadanya penjelasan dalam perkara tersebut. Kita tidak boleh menodainya. Boleh berdebat tetapi berdebatlah dengan cara yang baik.

Bila sampai menciptakan permusuhan maka sangatlah disayangkan. Ingatlah, satu jari telunjuk yang menunjuk “intoleran” pada orang lain itu memiliki empat jari lainnya menunjuk kepada diri sendiri. Sehingga kita perlu sering-sering introspeksi diri sebelum menilai orang lain. Bila ada penjelasan lain atas dibolehkannya ucapan tersebut kita juga harus menghormatinya sebagai sebuah pendapat. Tentu pendapat dari orang-orang yang punya kompetensi keilmuan sehingga bisa dipertanggungjawabkan, bukan pendapat yang hanya bermodalkan pada logika tanpa ilmu seperti pendapat saya dalam tulisan ini.

Yah, ini hanyalah pendapat dari saya sebagai orang awam sehingga tidak perlu untuk diikuti karena hanya sekedar berbagi ekspresi lewat tulisan.

Wallahu a’lam