Waktu yang Dijanjikan

14 Mei 2021

Mungkin benar waktu tidak pernah peduli pada seberapa siap tidaknya kita, tetapi waktu mungkin suatu ketika akan memberikan sesuatu yang lebih spesial pada saat kita sudah siap untuk menerimanya.

Siapa kita yang mengharapkan sesuatu sementara kita tidak mengkhususkan diri untuk sesuatu itu? Sebab jalan umum hanya untuk mereka yang berlalu lalang tanpa ingin sesuatu yang berbeda.

Siapa kita yang meminta Tuhan untuk mewujudkan apa yang diingini sementara kita tidak yakin benar dengan keinginan itu. Tuhan tidak menerima setengah keraguan untuk dikabulkan.

Bulatkan keinginan dengan langkah-langkah taktis yang tepat. Keinginan yang akan menjadi kebutuhan di masa yang akan datang walau mungkin sekarang belum kita inginkan. Namun, waktu yang akan mengubahnya menjadi kebutuhan yang mendesak dan saat itulah mungkin apa yang ada pada kita akan lebih dioptimalkan.

Masalahnya apakah seluruh kekuatan itu akan didapatkan dalam waktu yang singkat? Tentu tidak bagi yang tidak mempersiapkannya dan mengumpulkannya. Esok hari hanyalah simpul pengikat tali yang sama panjangnya atau ukurannya telah mencukupi sehingga bisa disatukan dalam satu simpul yang sama.

Hari ini kita berbeda-beda dengan berbagai gradasi warna. Pandangan hanya “hitam” dan “putih”, “A” dan “B” memang berbahaya bila salah ditempatkan. Letakkan tiap-tiap sesuatu pada tempatnya. Warna-warna yang berbeda akan menjadi indah seperti pelangi dalam satu jalan.

Al-Haq itu tidak pernah kalah dan dikalahkan, yang kalah adalah kita. Kita yang tidak layak, kurang layak, jauh dari sempurna untuk membawakannya. Adakah kualitas kita sudah mencukupi untuk memenangkannya?

Sebelum menyalahkan pihak lain, kitalah yang perlu berkaca, kitalah penyebab dari kekalahan ini. Kita memilih berpencar, rebah, dan tidur di saat musuh bangun dan bersatu.

Kini umat bagai tubuh tanpa kepala. Hanya pedih dan perih tanpa daya dan upaya merasakan sebagian anggota tubuh didera oleh rasa sakit oleh sebab tangan-tangan musuh.

Tak ada kebangkitan tanpa adanya kepemimpinan. Seperti tubuh yang tidak mungkin akan terbangun bila tak dimulai dari kepala lebih dulu.

Apakah kita akan terus menunggu dan berkata: “ini adalah urusan yang telah dijanjikan akan tiba pada waktunya jadi bersabarlah” tanpa sadar bahwa kita adalah bagian dari mata rantai dari waktu yang dijanjikan tersebut.

Jadi, apa upaya kita untuk memenuhinya?

Wallahu A’lam

NB: Segera yakinkan dan pantaskan diri untuk menjemput takdir-Nya. Jadilah diri yang proporsional, dan yang lebih penting integrasikan ucap dan sikap. Oleh sebab banyak yang tergelincir karena membaguskan ucapan sementara sikapnya belum menunjukkan apa yang telah diucapkannya. Sikap lebih penting dari ucapan, dan lebih berat untuk dilakukan, kecuali bagi mereka yang telah memenangkan dirinya.