Yang memilikinya

28 June 2020

Selalu ada godaan besar untuk “berhenti”, rebah menjadi tanah, mengalir mengikuti kemauan “takdir” yang apa adanya. Namun, akhirnya memilih untuk berjeda, membuat spasi, alih-alih membuat tanda berupa titik, dan mem-break sisa halaman yang kosong. Meninggalkan meski tak ditinggalkan seluruhnya. Mungkin ini suara rayuan dari “takdir” yang lain.

Sebagai yang tidak piawai memainkan lidah, menguntai kata dengan mulut, di mana suara menjadi warna tintanya, dan sebagian semesta menjadi kertasnya. Sebagai yang berhasrat untuk sembunyi, diam-diam, tanpa terbaca, meski jejak itu tidak mudah terhapus. Dunia tetap bisa membacamu, menyimpan jejakmu, sebagai cerita yang akan dibacakan ulang di hadapan sang pencipta.

Seandai waktu adalah tulisan, dan “aku” ada di dalamnya menjadi sebuah huruf. Huruf yang tidak mungkin ada sendirian, senantiasa berada dengan huruf-huruf lainnya, untuk menjadi kalimat-kalimat dalam satu paragraf. Bila waktu menyembunyikan satu hurufnya, ada kata yang tak akan terbaca. Ada kalimat yang memiliki kata yang cacat. Waktu tak segamblang itu menceritakan tentang dirinya

"aku tidak bisa membacanya”.

Seberapa besar value-mu, tergantung seberap besar kau mengisinya. Kau hanyalah variable, wadah dari apa yang selama ini kau kerjakan. Amal-amalmu tak mengkhianatimu, malahan kau sendirilah yang mengkhianatinya. Hatimu tak mencideraimu, pikiranmu sendiri yang kerap melakukan itu. Tuhan menutup pintu terhadap manusia yang tidak membuka pintunya dan keluar untuk mengetuk pintu-Nya. Dia tersenyum pada wajah yang penuh senyum. Dia mencinta pada hati yang penuh cinta. Siapa yang memutus dirinya, dia akan terputus dari-Nya. Hanya ada namanya yang tersisa, tapi Dia tidak peduli. Dia pergi dari hatimu dan menguncinya. Dan hanya Dia yang mampu membukanya sebab Dialah pemiliknya.

"Jangan ada ilah lain selain Aku”

28 June 2020